Logo

Banner
 


viewed: times

 

  Kota Jakarta awal 19:

Harmoni abad 19 Situasi Harmoni di abad 19 awal. 

Gedung Arsip Nasional di tahun 2007 Gedung Arsip Nasional di tahun 2007. 

Google
 
Kota Tua Jakarta   Bermula dari Sunda Kelapa yang adalah pelabuhan besar Kerajaan Pajajaran, menjadi Jayakarta pada 1527. Sejarah Jakarta diawali sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 1500. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai.
Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bandar bernama Sunda Calapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dengan bahasa utama bahasa Melayu.
Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Calapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.
Selain kisah tersebut di atas, masih ada lagi versi lain tentang Jakarta masa lalu, yang menyebutkan nama Ja(ya)karta diturunkan dari nama adipati yangketiga, yaitu Pangeran Jayawikarta yang membela tanah air dengan mengusir Jan Pieter Coen yang mendirikan Batavia pada tahun 1619.Yang mendukung versi ini antara lain Dr.Slametmulyana. Dokumen paling tua yaitu Summa Oriental karangan Torne Pires yang melaporkan ekspedisinya dari tahun 1512-1515 menyebutkan adanya permukiman di mulut sungai ciliwung dengan nama "Sunda Calapa".
Pertama kali nama Jayakarta tertulis dalam dokumen tertulis keluaran 1553, dalam karangan sejarawan Barros yang berjudul Da Asia, menyebutkan: Pulau Sunda adalah negeri pedalaman...

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Kompeni membangun kanal-kanal dan folder air (setu)untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lingkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.
Belanda menghancurkannya pada tahun 1619 dan mendirika Batavia.

Bandar Batavia Medio abad 20 Bandar Jakarta di medio abad 20. 

Mercusuar Bandar Batavia Mercusuar Batavia di tahun 2007. 

Urutan

seberang stasiun kota (dahulu bernama Stationplein 1, Binnen Nieuwpoortstraat sekarang lebih dikenal sebagai setasiun Beos) yaitu di gedung bergaya art deco bernama Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) yang jg dikenal dengan nama factorij yang saat ini disebut sebagai Museum Bank Mandiri. Gedung bank kolonial belanda ini dirancang oleh J.J.J de Bruyn dan A.P van der Linde dan dibangun pada tahun 1929 oleh Biro Konstruksi NV Nedam serta diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh C.J Karel van Aalst, presiden NHM ke-10 di Batavia.

jalan dari pintu besar utara ke arah Hayam wuruk/ Gajah mada, (dahulu Binnen Nieuwpoort Street ke arah Molenvliet), terdapat Nederlandsch Indische Escompto Maatchappij yang didirikan pada tahun 1857 kemudian dinasionalisasi menjadi Bank Dagang Negara pada tahun 1960. singkatnya biasa disebut Eskomto dan berada di dekat Museum Sejarah DKI (Museum Fatahillah). Konon eskomto merupakan salah satu bank tertua dan terbesar kedua di indonesia setelah De Javasche Bank (skr Bank Indonesia).Molenvliet adalah kanal kecil yang dibangun oleh Capitein der Chinesen Phoa Beng Gam pada tahun 1848.

.

Batavia Tempo Dulu

Batavia Tempoe Doeloe,
Sumber: tjamboek28.multiply.com

 

Contact Us:
ARCHIPEDDY
WEB SOURCE
BUILDING KNOWLEDGE
CATALOG PROMO

Email: staff

   
 

� Copyright 2009-2011 archipeddy.com   designed by: www.archipeddy.com