Legenda Pak Wongso

Sumber: Warta Kota 28 Septemberr 2011


Rumah Pah Wongso di Blandongan, kawasan Pecinan Jakarta Kota

Warta Kota, Rabu, 28 September 2011 – Orang-orang tua yang pernah merasakan hidup di zaman kolonial, pastilah pernah mendengar nama Pak Wongso (dalam foto-foto lama tertulis Pah Wongso). Wongso termasuk tokoh legendaris di daerah Pecinan.

Wongso adalah seorang keturunan Belanda. Pada masanya, tahun 1940-an, dia mendirikan panti sosial. Banyak anak kecil yang dianggap nakal oleh orangtuanya, dititipkan di kediamannya untuk dididik menjadi orang berguna. Setelah mendapat gemblengan Pak Wongso, biasanya mereka tumbuh jadi orang berhasil. Pak Wongso juga banyak memperhatikan orang terlantar. Mereka diperkenankan tinggal di rumahnya.

Menurut orang-orang tua di sekitar Pecinan, Wongso adalah seorang pedagang keliling. Dia biasa dagang mi dalam baskom besar menggunakan sepeda. Wongso pun memiliki bisnis lain, yakni rental kendaraan.

Selepas 1947, mungkin setelah Pak Wongso meninggal, panti sosial itu tidak terurus lagi. Rumahnya pun berpindah tangan, entah ke mana keluarganya menetap. Menurut kabar terakhir, salah seorang anaknya tinggal di Jember. Rumah Pak Wongso terletak di Jalan Blandongan sekarang, tetapi sejak beberapa tahun lalu sudah rata dengan tanah.

Bersebelahan dengan rumah Pak Wongso terdapat rumah tua bekas perkumpulan Tionghoa. Selepas G30S-PKI rumah itu disita pemerintah. Di Jalan Blandongan dan sekitarnya yang termasuk Kecamatan Tambora, beberapa tahun lalu masih terdapat beberapa rumah berarsitektur China. Rumah-rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1770-an hingga abad ke-19 setelah peristiwa Pemberontakan China 1740. Keberadaan bangunan itu mengukuhkan adanya permukiman khusus untuk etnis China yang menjadi mitra Belanda. Dengan demikian memperkaya khasanah arsitektur bangunan di Provinsi DKI Jakarta. Bangunan tersebut masih asli, utuh, tetapi dalam keadaan kurang terawat.

Sayang karena ketidaktahuan pemilik dan kemasabodohan pemerintah, beberapa bangunan sudah berganti wajah. Arsitektur lamanya tidak kelihatan lagi sehingga kita kehilangan jejak masa lalu. Padahal menurut Undang-undang tentang Cagar Budaya, merusak bangunan merupakan tindak pidana.

Menurut feng shui (ilmu tata letak bangunan asal China), wilayah Jakarta Barat dipercaya merupakan tempat terbaik untuk lokasi Pecinan karena dianggap berada di area ’kepala naga’. Karena itu pusat perdagangan dan permukiman berada di wilayah ini. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Posted in Histo-heritage | Tagged , , , | Leave a comment

Segudang fantasi dari taman impian

Dari: Majalah Tempo
31 Agustus 1985
Segudang fantasi dari taman impian
APA yang tak dapat Anda temukan di Taman Impian Jaya Ancol ? Pertanyaan ini tentu lebih mudah dijawab daripada mencari dan menyebut semua yang ada dan tersedia di kawasan rekreasi ini. Orang yang canggih akan berkata: ah, Ancol belum punya skylift.
Tetapi, Ancol sudah menyediakan yang lebih canggih: pelabuhan yacht, tempat berselancar angin, gelanggang berkuda, lapangan golf. Yah, Ancol belum punya kurhaus. Memang, tetapi Ancol punya teater mobil, sebuah hotel internasional dan cottage yang nyaman. Restoran yang tersedia di Taman Impian Jaya Ancol pun menawarkan citarasa maupun tingkat kecanggihan yang sangat beragam: Jepang, Korea, Eropa, Manado, Jawa, Padang, dan sebutlah lagi yang lain. Ancol dulu memang hanya rawa-rawa yang dihuni nyamuk, kawanan kera dan para penyamun yang hincit dari kejaran polisi Belanda. Daerah Gunungsahari saja pada saat itu sudah merupakan daerah pinggiran tempat menir-menir Belanda membangun rumah dengan halaman luas sebagai peristirahatan. Hingga tahun 1964 Ancol masih berupa hamparan rawa. Lalu seorang insinyur bernama Ciputra yang pada tahun 1967 sebagai pimpinan PT Pembangunan Jaya, mulai melirik ke kawasan ini. Dengan tanah seluas 550 hektar rawa yang telah direklamasi menjadi daerah yang dipandang ideal untuk industri, perumahan dan rekreasi. Mungkin awalnya adalah sebuah mimpi. Kawasan rekreasi yang digagas Ciputra ini pun tak ayal lagi diberi nama Taman Impian Jaya Ancol. Dari seluruh rawa yang di-reklamasi itu, seluas 137 hektar dipakai untuk membangun kawasan rekreasi. Pada tahap pertama serba sederhana, yang disebutnya seperti pada zaman revolusi agraria sebagai generasi pertama TIJA hanya memanfaatkan keadaan alamnya saja: pantai. Listrik belum lagi dimasukkan. Malam hari hanya dinyalakan beberapa obor di tepian pantai. Masyarakat Jakarta lalu mengenal sebuah tujuan baru untuk ber-rekreasi. Ancol! tempat yang semula selalu disebut dengan gurauan “tempat jin buang anak”, sekarang telah mempunyai sirkuit balap mobil, night club dan fasilitas pantai. Pada masa awal itu pantai Ancol memang mirip sebagai lover’s lane yang panjang. Malam-malam, sepasang demi sepasang mahluk muncul dan memadu janji di keremangan malam. Tempat rekreasi ini masih lebih banyak dinikmati oleh pasangan-pasangan kekasih. Lalu tahap kedua pembangunan TIJA pun dimulai pada tahun 1973 dengan memasukkan unsur teknologi. Revolusi industri mulai dimanfaatkan merupakan babakan generasi kedua. Dibangunlah fasilitas rekreasi yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga, seperti: Gelanggang Samudra, Gelanggang Renang, hotel, cottage, hostel, lapangan golf, teater mobil, pasar seni, marina dan lain-lain. Potensi alam sudah digabungkan dengan teknologi modern. Keluarga-keluarga mulai berduyun-duyun datang. Apalagi setelah Taman Impian Anak-anak dibuka, dimana anak-anak dapat bermain sambil mengembangkan kreativitas, Taman Impian Jaya Ancol semakin ramai dikunjungi. TIJA bahkan sudah menjadi landmark, bagi Jakarta. Setiap tamu yang datang dari luar kota atau luar negeri selalu diajak pesiar ke Ancol, seakan-akan belum di Jakarta kalau belum ke Ancol. Sebagai perusahaan yang mengandalkan teknologi dan inovasi, sudah dapat diduga bahwa langkah lanjut Pembangunan Jaya adalah menerapkan teknologi canggih untuk mengembangkan kawasan rekreasi Ancol ini. Demikianlah, tahap ketiga pembangunan TIJA memang memakai teknologi canggih. Tahap.ini diawali dengan pembangunan Dunia Fantasi yang akan diresmikan pembukaannya pada 29 Agustus 1985 ini. Dunia fantasi yang menampilkan jenis hiburan berteknologi canggih ini memang ternyata membangkitkan minat penduduk Jakarta. Sejak soft opening pertengahan Juni yang lalu, sudah setengah juta pengunjung datang ke sana. Pengunjung Taman Impian Jaya Ancol sendiri kini mencapai ratarata 760.000 per bulan. Mulai tahun 1979 jumlah pengunjung pertahun bahkan mencapai 10 juta orang. Dunia fantasi yang terletak di sisi barat TIJA, bersebelahan dengan pelabuhan khusus kapal pesiar Marina, dibangun di atas tanah seluas 9,7 hektar. Ini memang baru babak pertama, yaitu Fantasi Keliling Dunia. Seluruh kawasan Dunia Fantasi nantinya akan mempunyai areal seluas 60 hektar bahkan dicita-citakan menjadi 200 ha yang dibagi dalam empat tahap pembangunan. Tiga tahap berikutnya: Fantasi Dongeng, Fantasi Petualang dan Fantasi Harapan direncanakan rampung dalam waktu sepuluh tahun. Ini cocok dengan konsep taman rekreasi berthema (theme park) seperti yang kita jumpai di Disneyland, misalnya. Taman rekreasi berthema pada dasarnya adalah taman rekreasi yang dengan bentuk penampilan fisik maupun layanan yang sesuai dengan thema atau suasana tertentu. Tujuan dari bentuk dan penampilan khusus ini adalah untuk memperkuat kesan dan suasana yang ingin dicapai, sehingga pengunjung puas berfantasi dan merasa telah berada di luar dunia kenyataan sehari-hari. Fantasi keliling dunia, misalnya, menampilkan tujuh kawasan yang mewakili ciri-ciri geografis wilayah dunia. Dimulai dengan Kawasan Jakarta, Kawasan Afrika, Kawasan Amerika (Wild West), Istana Boneka, Kawasan Indonesia, Kawasan Eropa dan Kawasan Asia yang masing-masing merupakan sub-thema dengan cirinya yang khas. Sub-thema itu tampil dalam bentuk arsitektur bangunan, dekorasi, atraksi maupun layanan yang tersedia di dalam masing-masing kawasan. Dunia Fantasi ini tampaknya benar-benar dibangun di atas pengertian bahwa manusia secara tak sadar selalu berfantasi untuk memindahkan dirinya dari kenyataan hidup dan ketegangan yang menghimpitnya. Sejenak berada dalam alam angan-angan selalu merupakan kemewahan yang tersendiri bagi manusia yang da waktu ke waktu membutuhkan rekreasi. Konsep ini masih baru bagi Indonesia. Berlainan dengan Taman Mini Indonesia Indah yang “Melestarikan” masa lalu Indonesia dan berfungsi sebagai pelestari kebudayaan, Dunia Fantasi memang tidak menunjuk kecenderungan ke arah sana. Dunia Fantasi menawarkan suguhan masa depan dan merangsang fantasi pengunjungnya untuk mencipta dan akrab dengan teknologi. Fantasi Keliling Dunia ini dibangun mengikuti pola tapak temu gelang untuk menuntun pengunjung agar dapat mengikuti semua suguhan atraksi secara lengkap tanpa harus mundar mandir dalam rute yang acak. Para pengunjung diterima di Kawasan Jakarta yang merupakan daerah pintu gerbang dan pusat pelayanan bagi para pengunjung. Dengan bentuk bangunan corak Betawi, para pengunjung langsung dapat merasakan sambutan Jakarta Tempo Doeloe. Di kawasan ini terdapat tujuh buah loket karcis, toilet umum, tempat menyewa kursi roda, kereta anak dan juga menyewa kamera, tempat penitipan barang. Dalam gaya arsitektur khas masa lalu, di kawasan ini terdapatjuga balaikota, kantor pos, restoran, toko dan bank. Sebuah komidi putar sebagai ciri utama taman rekreasi umumnya diberi nama Turangga-rangga juga langsung menyambut para pengunjung di plaza luas di depan balaikota. Mengikuti jalur ini para pengunjung akan tiba di kawasan Afrika yang ditandai dengan corak bangunannya gaya Timbuktu. Di kawasan ini terdapat dua wahana penting, yaitu Balada Kera dan permainan mobil senggol yang diberi nama Ubanga-banga. (nama inipun terdengar sangat Afrika). Balada Kera mungkin merupakan kebanggaan tersendiri. Ia merupakan pertunjukkan komidi musik yang diperankan oleh 23 kera yang dikendalikan dengan cara audioanimatronik. Ke-23 kera ini menampilkan pertunjukan panggung dengan gerak, nyanyi dan lawakan segar. Kecuali di Jepang, pertunjukan ini merupakan satu-satunya di Asia. Dan ini boleh dicatat, komidi kera ini merupakan ciptaan putra-putra Indonesia. Pertunjukan 22 menit ini berlangsung dalam sebuah gedung yang menampung 600 orang. Di Kawasan Amerika terdapat tiga wahana. Yang paling banyak diantri pengunjung adalah Riam Luncur Niagara-gara. Para pengunjung naik dalam sebentuk balok yang dihilirkan mengikuti alur parit, lalu mendaki dan tiba-tiba dari ketinggian 11 meter balok itu meluncur deras ke sebuah kolam air yang tersibak karena balok terjun. Sekalipun pada mulut antrian terpampang tulisan agar penderita penyakit jantung tidak menggunakan wahana itu, tetapi atraksi “maut” ini memang mengundang fantasi istimewa. Kawasan Amerika gaya koboi ini juga menyuguhkan atraksi rumah ajaib. Pengunjung dibuat pusing mengikuti jalan yang miring dalam rumah miring itu. Di situ air pun mengalir ke atas, bola jatuh menggelinding ke atas. Di sini pun ada wahana mainan, Kursi Layang Pontang-pontang. Kursi layang (scrambler) ini mengocok penumpang yang duduk di atas kursi yang berputar cepat melayang dalam sumbu putar yang dibolak-balik. Di sebelah utara terdapat bangunan dengan warna warni dan bentuk yang mencolok. Bangunan seluas 3000 meter persegi ini disebut Istana Boneka yang menampilkan 600 boneka animatronik. Boneka-boneka itu dikendalikan dengan microprocessor sehingga menampilkan gerak-gerak yang diinginkan. Misalnya, ada penari perut dari Mesir yang menggoyang pinggulnya, atau dua pegulat sumo dari Jepang yang sedang mengadu kepalanya. Para pengunjung harus naik kendaraan air yang bergerak untuk mengitari Istana Boneka. Thema Istana Boneka ini adalah mengelilingi dunia dalam skala yang lebih kecil lagi. Dalam perjalanan 12 menit itu pengunjung melihat alam Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia dalam bentuk-bentuk boneka dan pakaian serta lingkungannya. Bahkan lagu Istana Boneka yang mengiringi perjalanan pun berubah-ubah aransemen dalam iramanya mengikuti gaya setempat. Melintasi kawasan Maluku pendengar menikmati dentam tifa, tetapi ketika melintas kawasan Spanyol musik pengiringnya menampilkan suar banyo yang mencuat. Kawasan Indonesia merupakan kawasan yang sepenuhnya diabadikan untuk anak-anak. Di kawasan ini terdapat enam wahana mainan mobil senggol, kereta layang, pesawat putar, kapsul layang, panggung boneka dan arena permainan aktif bagi anak-anak. Pada kenyataannya kaum dewasa pun menikmati wahana mainan ini. Dan ini cocok dengan ucapan seorang filsuf: bahwa masa dewasa hanyalah sebuah perpanjangan dari masa anak-anak. Kawasan Eropa merupakar pusat layanan makanan dan minuman dengan bangunan-bangunan yang berkarakteristik Eropa. Di sini terdapat pula arel adu tangkas, jenis permainan fisik yang termasuk baru di Jakarta, video game, serta wahana mainan piring oleng. Perjalanan keliling dunia dalam sehari ini berakhir di kawasan Asia dengan bentuk-bentuk bangunan Jepang, Korea, India dan Muangthai. Di kawasan ini terdapat wahana berukuran raksasa, yaitu Kincir Raksasa dan Perahu Ayun. Di sini pun terdapat wahana Mobil Senggol yang ketiga. Bila pengunjung benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk menikmati ketujuh belas wahana yang tersedia di Dunia Fantasi, ia memang akan memerlukan waktu sehari suntuk. Apalagi kalau ia memanfaatkan satu wahana yang disukainya beberapa kali. Ini disebabkan perlunya mengantri pada wahana tertentu. Di Dunia Fantasi ini pengunjung sekaligus dilatih berdisiplin untuk berdiri dalam antrian setiap akan mengunjungi wahana. Untuk Mobil Senggol yang hanya dua menit, orang mungkin harus berdiri 15 menit dalam antrian, tergantung jumlah pengunjung pada hari itu. Pada hari Minggu dan hari libur resmi Dunia Fantasi dibuka dari pukul 10 pagi hingga pukul 10 malam. Khusus pada hari-hari biasa dibuka antara pukul 3 petang hingga pukul 10 malam. Rentang waktu yang cukup untuk menikmati segudang fantasi yang tersedia di sana. Seperti halnya taman-taman rekreasi di Eropa dan Amerika yang mempunyai tokoh karakter (adi tokoh), Dunia Fantasi pun mempunyai hewan karakter berupa kera bekantan yang diberi nama Dufan (singkatan dari Dunia Fantasi). Dipilihnya kera sebagai karakter adalah untuk mengingatkan bahwa Ancol dahulu adalah kawasan kera. Pemilihan kera bekantan adalah semata-mata untuk mengenalkan jenis satwa langka yang kini dilindungi. Bentuk karikatural kera bekantan ini divisualisasikan oleh Matari Advertising yang ikut serta dalam program komunikasi awal Dunia Fantasi. Dufan yang djadikan adi tokoh ini diharapkan akan menjadi idola anak-anak, seperti tokoh Mickey Mouse di Disneyland. Masing-masing kawasan pun mempunyai tokoh karakternya tersendiri. Misalnya, sebagai master of ceremony di Balada Kera adalah kera baboon, sedangkan di Kawasan Indonesia tokoh karakternya adalah garuda. Bahwa Dunia Fantasi sudah menerapkan Bersih Tertib Rapi Aman yang menjadi pegangan utama taman-taman rekreasi di Indonesia. Konsep ini dikemukakan oleh Ibu Tien Soeharto dalam Kongres PUTRI yang lalu. “Tempat umum yang paling bersih di Indonesia barangkali ya Dunia Fantasi ini,” kata Didi membanggakan proyeknya. Dunia Fantasi memang berpegang bahwa sampah itu mengundang sampah yang lain. Dengan tidak tampaknya sampah berceceran kawasan ini, orang tentunya akan rikuh juga untuk membuang sampah sembarangan. Setiap petugas sampah dengan sigap akan memungut setiap sampah yang tercecer. Tempat-tempat sampah yang berwarna putih pun tampak di mana-mana. Itulah sebabnya pula di pintu masuk para pengunjung diminta untuk menitipkan makanan yan dibawa dari rumah. Sampah yang terbanyak tertimbun di taman-taman rekreasi dan tempat umum memang biasanya mempakan sampah makanan dan pembungkusnya. Investasi mahal yang diletakkan atas proyek ini tentu saja tercermin pada harga karcis masuk. Untuk pertama kali memang ada kesan mahal. Pada hari minggu dan hari libur resmi harga karcis masuk (karcis masuk yang juga berlaku untuk 7 wahana) adalah Rp 3.000,00. Bila ingin menikmati 10 wahan tambahan yang tersaji, masih 1 harus membayar karcis paket seharga Rp 5.000,00. Cara termurah untuk mengunjungi Dunia Fantasi adalah hari Senin ketika harga karcis masuk adalah, Rp 1.000,00 dan harga paket Rp 2.500,00 Untuk hari Selasa sampai Jum’at harga karcis masuk Rp 1.500,00 dan paket Rp 3.000,00. Khusus hari Sabtu harga karcis masuk Rp 2.000,00 dan paket Rp 4.000,00. Untuk anak berusia 2 – 6 tahun dikenakan setengah harga, sedangkan dibawah 2 tahun bebas masuk. Kesan mahal ini memang hanya bisa sirna setelah pengunjung menikmati sajian yang tersedia di Dunia Fantasi karena pengunjung dapat menikmati berulang-ulang atraksi/wahana yang tertulis di karcisnya, sehingga waktu sehari penuh dapat dimanfaatkan sepuas hatinya. Hari Senin menurut Didi, ramainya pengunjung sama dengan hari Minggu, karena harga karcis yang sengaja diturunkan agar dapat lebih menjangkau banyak lapisan masyarakat. Tempat rekreasi ini menelan biaya Rp 22 milyar. Mahal ? Ternyata tidak. Biaya mahal ini menjadi ringan bebannya karena beberapa kawasan disponsori oleh perusahaan-perusahaan. Ubin keramik yang menjadi lantai bagi 3 hektar permukaan Dunia Fantasi disponsori oleh Super Italia. Begitu juga pengecatan seluruh kawasan Dunia Fantasi yang disponsori oleh Dana Paint. Sponsor-sponsor lain mensponsori salah satu kawasan atau pertunjukkan untuk jangka waktu lima tahun. BNI 46, misalnya, mensponsori Kawasan Indonesia, Kodak mensponsori Istana Boneka, Jamu Air Mancur mensponsori Kawasan Afrika (Balada Kera), Sinar Sosro mensponsori Kawasan Eropa, Chiki Snack mensponsori wahana kincir Raksasa & Mobil Senggol, Garuda Indonesia Airways mensponsori Kawasan Jakarta, dan Jarum Kretek Cigarete mensponsori Kawasan Amerika. Sponsor lain adalah Horison Hotel yang berlokasi di sebelah Dunia Fantasi yang menjadi hotel resmi Dunia Fantasi. Perusahaan film Kodak yang tampaknya paling berpengalaman dalam hal semacam ini. Seperti Disneyland dan Disney World di Amerika pun disponsori oleh Kodak. Tak heran kalau Kodak mengambil sponsor atas Istana Boneka, salah satu puncak atraksi di Dunia Fantasi. Kodak juga menyewakan kamera bagi para pengunjung serta mempunyai beberapa kios untuk menjual dan mencetak film. BNI 46 mempunyai bank kecil dalam kawasan yang disponsorinya untuk mempromosikan manfaat bank kepada anak-anak dengan menampilkan film dan burung audioanimatronik. Kepada para sponsor memang diberi keleluasaan untuk menggunakan Dunia Fantasi sebagai wahana promosi. Yanto Wonosantoso, direktur Jamu Air Mancur, tidak berpikir lama ketika ia ditawari Ciputra untuk mensponsori salah satu atraksi di Dunia Fantasi. Ia memilih Balada Kera karena Afrika merupakan kawasan alam, kawasan yang juga menyediakan berbagai bahan ramuan jamu. Yanto yakin bahwa pensponsoran yang dilakukannya itu bermanfaat dalam menaikkan citra perusahaannya disamping keikutsertaan menyediakan hiburan sehat bagi masyarakat. Hal yang sama juga dianut produsen makanan ringan Chiki selain karena pengunjung Dunia Fantasi sebagian besar merupakan keluarga dan anak-anak. Pada tahap pembangunan selanjutnya nanti, Dunia Fantasi masih lagi akan menawarkan berbagai fantasi yang menarik. Dalam Fantasi Dongeng, misalnya, anak-anak akan akrab lagi dengan berbagai dongeng yang pernah populer di Nusantara. Dalam Fantasi Petualang nanti anak-anak akan diajak berpetualang menunggang kapal perompak dan lain-lain. Sedangkan pada Fantasi Harapan, pengunjung akan diajak berfantasi tentang kehidupan pada masa yang akan datang. Fantasi Masa depan. Homo luden, manusia bermain. Dan dalam bermain, manusia berfantasi. Masyarakat Jakarta yang penat, kini telah menemukan lagi sebuah tempat rekreasi yang bermutu. Tulisan: Bondan Winorno dan Harso Widodo BOKS I KEBANGGAAN PARA ARSITEK KETIKA Ciputra masih mahasiswa arsitektur ITB, ia sudah kagum pada Walt Disney. Itu adalah juga kekaguman para arsitek kepada seniman pencipta tempat hiburan yang sangat menarik. “Dalam menciptakan tempat hiburan, ia memakai alat-alat dan media arsitektur untuk mewujudkan cita-citanya,” tutur Ciputra. Ia sendiri termasuk arsitek yang mengakui Walt Disney sebagai bapak arsitektur rekreasi modern. Dari kekagumannya itulah kemudian ia bercita-cita untuk keliling dunia setelah lulus sarjana arsitek. Tentu saja Disneyland menjadi tujuan utamanya. Karena arena hiburan selama itu yang dikenal adalah tak lebih dari pasar malam yang hiruk pikuk dengan persaingan pengeras suara untuk menarik pengunjung. Dan Walt Disney berhasil mengubah tempat hiburan menjadi suatu theme park, sampai tercipta satu media rekreasi seperti Disneyland yang sangat dikagumi orang. Ciputra sendiri semula tidak menyangka bahwa suatu waktu ia akan berhasil membangun sebuah tempat hiburan yang nyaris berupa Disneyland mini. Ketika kepadanya diserahi tugas untuk mengelola Ancol, yang dikenal dengan Bina Ria itu, ia dan stafnya teringat pada Disneyland. Ia lalu menulis surat pada Disneyland, untuk meminta perusahaan rekreasi itu mengadakan kerja sama dengan Indonesia. Seperti apa yang dilakukannya pada Far East Organisation yang melakukan investasi di Taman Ria. Disneyland menolak tanpa menyebutkan alasan, bahkan berwanti-wanti padanya untuk tidak menggunakan Disneyland bila Ciputra membangun tempat rekreasi seperti itu. Karena Disneyland sudah paten. Tawaran kerja sama juga disampaikan pada Far East Organisation di Hongkong. “Tetapi, mereka menolak dengan alasan Ancol terlalu jauh dari kota,” jelas Ciputra. Ide itu kemudian tetap menjadi ide semua pimpinan Ancol, juga pemerintah daerah, agar ada semacam Disneyland di Ancol. Karena biaya dan kemampuan teknologi untuk mencapai cita-cita itu masih sangat minim, maka Ancol djadikan rekreasi pantai dulu. Taman Impian Jaya Ancol pun berkembang sehingga terkumpul modal untuk melaksanakan impian semula. Modal itu bukan saja berupa sejumlah uang, tetapi juga tenaga-tenaga ahli Pembangunan Jaya yang telah akrab dengan kemajuan teknologi. Untuk membangun yang semegah Disneyland memang belum mungkin. Karena menyangkut biaya sebesar kurang lebih Rp 700 milyar, tanpa tanah. Sedang proyek Dunia Fantasi ini hanya dengan biaya Rp 22 milyar tanpa tanah. “Jadi jangan bandingkan dengan Disneyland,” pintanya. Tentang keinginannya bekerja sama dengan Disneyland akhirnya toh diurungkannya. Karena ia sudah bangga dengan hasil stafnya yang boleh diacungi jempol. Lagipula, ia teringat pada Disney World yang ada di Tokyo, yang dimiliki oleh Mitsui grup. Ketika Disney World Tokyo selesai Ciputra punya kesempatan bertamu ke Presiden Direktur Mitsui. Dari sana ia tahu bahwa Disney World Tokyo dibangun dan dikelola oleh Walt Disney Organisation, Amerika, dengan fee 10% dari pendapatan. Sedangkan kontraknya berlaku untuk 45 tahun, yang seharusnya 50 tahun. “Itupun setelah tawar-menawar dari pihak Mitsui yang akhirnya hanya mendapat pengurangan waktu lima tahun,” tuturnya. Dengan kontrak yang begitu lama, bukan soal pembayaran yang menjadi pikiran Disney World Tokyo, akan tetapi pembaharuan selama masa kontrak itu tetap dipegang oleh organisasi di Amerika itu. “Jadi suatu waktu bila bangsa Jepang sudah begitu maju, tetap mereka tak dapat melakukan inovasi pada taman rekreasi kebanggaan tersebut,” lanjutnya. Kekuasaan itu bukan hanya dalam hal pembaharuan teknologi, “tetapi, juga soal menjual makanan. Di sana tidak ada dijual makanan Jepang.” Belajar dari pengalaman itu, Ciputra tentu gundah. Ia bahkan khawatir bagaimana kalau kerja sama itu terjadi di Ancol. Orang tak bisa mencari makanan Indonesia. Apalagi dalam masa kontrak 50 tahun. Dalam Dunia Fantasi, bisa diadakan berbagai kreasi yang sesuai dengan alam Indonesia, “Misalnya balada kera,” katanya. Dan pada kenyataannya orang memang kagum terhadap tontonan boneka kera yang dapat menyanyi dan berbicara menurut program. Lelaki kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah ini kemudian merendah dengan menyatakan bahwa Dunia Fantasi ini dibangun hanya sekadar meletakkan dasar untuk anak cucu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Masjid Jenewa

Dari: Majalah Tempo
24 Juni 1978

2 JUNI yang lalu, Raja Khalid dari Arab Saudi datang ke Jenewa. Bukan untuk mencari senjata, tetapi untuk meresmikan pembukaan mesjid pertama di Jenewa, bahkan boleh dikatakan yang pertama di Swiss.

Sebelumnya, di Zurich juga sudah ada sebuah mesjid kecil. Tetapi yang di Jenewa ini merupakan yang pertama yang berdiri sendiri sebagai bangunan mesjid dengan arsitekturnya yang khas. Rumah ibadat yang terletak di Jalan Colladon itu dirancang oleh Osman Gurdogan, seorang arsitek Swiss keturunan Turki.

Dapat dimengerti kalau pengaruh gaya Turki-Byzantium sangat dominan pada arsitekturnya. Dibangun sejak 1975, mesjid ini sanggup menampung 350 jemaah. Tidak besar menurut ukuran kita –bahkan lebih kecil dari misalnya Masjid Washington apa lagi rencana Pusat Islam di New York. Toh bagi masyarakat Jenewa yang umumnya “peka” terhadap masalah agama, hal itu cukup merangsang suara-suara. Kepekaan agama itu terasa dengan perlunya Dewan Gereja di Jenewa mengingatkan kepada masyarakat: untuk “tidak perlu gelisah.” Karena Jenewa sebagai kota internasional, kata mereka, memang memerlukannya. Mesjid itu diadakan untuk memberi kesempatan kepada umat Islam dari berbagai bangsa yang ada di Jenewa untuk melakukan sembahyang bersama menghadap ke Mekah — yang terletak 22 derajat ke arah selatan Jenewa. Dan “tidak dimaksud untuk mengislamkan orang-orang Jenewa,” kata seruan itu. Pengumuman itu juga menegaskan agar mereka menghormati mesjid itu sebagaimana mereka menghormati gereja …. Osman Gurdogan, si arsitek, mengatakan bahwa kesulitan pertama adalah memasukkan arsitektur mesjid itu agar serasi dengan bangunan di sekitarnya. Kesulitan kedua: bagaimana membuat kehadiran mesjid, dengan panggilan sembahyang lima waktunya melalui pengeras suara di menara, tidak membangkitkan sentimen keagamaan masyarakat sekitar. Pengeras Suara Arsitektur mesjid lantas dirancangnya sedemikian rupa agar harmonis dengan bentuk-bentuk bangunan lingkungan. “Yang penting nanti kan bagaimana kwalitas orang-orang yang mengisi mesjid ini,” kata Osman kepada wartawan TEMPO di Jenewa. Meskipun kecil, interior mesjid ini, sebagaimana umumnya mesjid-mesjid di Dunia Barat, sangat megah. Hiasan dinding gaya Timur Tengah mengisi seluruh ruang sembahyang, dari lantai sampai ke atap. Lampu kristal di serambi utamanya, yang juga merupakan sumbangan dari Arab Saudi, mencapai berat satu ton. Marbut mesjid ini, yakni pengurus sehari-hari, adalah orang Indonesia, Basalamah, asal Padang dan sudah 25 tahun menetap di Jenewa. Selain menjadi marbut, ia juga mengajar agama Islam kepada anak-anak. Mula-mula memang hanya kepada keluarga Indonesia, tapi, seperti yang terjadi di Amerika, lama-lama kan para tetangga Barat sendiri pada datang. Budi Wibowo, yang juga jadi pengurus mesjid, menuturkan bahwa shalat Jum’at sudah diselenggarakan di situ. Jemaatnya 200 orang, dan khutbah diberikan dalam bahasa Perancis.


Posted in Kliping 1978 | Tagged , , , , , | Leave a comment

Pasaran Arsitek Indonesia Dari Dunia Yang Baru Tumbuh

Dikutip dari Majalah Tempo
16 Oktober 1982
Pasaran arsitek indonesia dari dunia yang baru tumbuh
GEDUNG-GEDUNG megah bermunculan di mana-mana. Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung …. Gedung-gedung yang cantik, yang hebat kekar, yang “aneh”. Lihatlah gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bertingkat delapan di Jakarta, yang diresmikan bulan lalu. Atau gedung bersegi delapan di jantung Ujungpandang, ‘Gedung Kemanunggalan ABRI-Rakyat’, yang diresmikan Menhankam Minggu malam kemarin.

Itu hanya dari contoh terakhir. Siapa yang membikin semuanya, gerangan? Para arsitek kita sendiri. Memang, bukan sama sekali tak ada arsitek asing beroperasi. Tapi terutama sejak sekitar sepuluhan tahun lalu, sebagian besar gedung baru memang bikinan “anak-anak kita”. Setidak-tidaknya, sekarang ini tak ada persaingan dengan orang seberang. “Memang tidak ada,” kata Ir. Utomo Brodjonegoro, salah satu pimpinan PT Gubah Laras, biro jasa dalam bidang arsitektur. Sebab arsitek asing, kalaupun mau memegang satu proyek di sini (biasanya untuk bangunan yang modalnya dari negara lain), harus punya izin. Dan dalam izin disebutkan, ia harus bekerjasama dengan arsitek sini. Dengan kata lain, arsitek Indonesia tetap sibuk. Syukurlah. Padahal dibanding profesi lain, kedokteran misalnya, profesi arsitek di sini masih terbilang baru. Arsitek angkatan pertama yang lulus dari Jurusan Arsitektur ITB saja belum 25 tahun menyandang gelar sarjana. Mereka lulus dari ITB 1958, dan jurusan itu sendiri bru diadakan di sana — yan pertama kali untuk Indonesia–1954. Lagi pula menurut IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) hingga tahun ini baru ada sekitar 2.000 arsitek. Bandingkan dengan jumlah dokter yang di atas 12.000. Tapi meningkatnya kesibukan arsitek sekarang ini memang ada alasannya. Bila Dana Pembangunan dari APBN meningkat, biasanya kebutuhan terhadap jasa mereka bertambah. Soalnya pembangunan fisik di tanah air ini, untuk sebagian besar, yang empunya kerja memang pemerintah. “Enam tahun terakhir ini bisa dikatakan 70% bangunan gedung baru adalah pesanan pemerintah,” kata Ir. Adhi Moersid, salah seorang pimpinan biro arsitek Atelier 6, Jakarta. Itu dibenarkan oleh Ir. Harjo Sabrang, Direktur Tata Bangunan Ditjen Cipta Karya Departemen PU. Dengan mengambil ancang-ancang mulainya Pelita I, 1969, disebutkannya rata-rata kenaikan proyek bangunan pemerintah sekitar 30% tiap tahunnya. Untuk 1982 ini, di direktorat yang dipimpinnya tercatat 4.000 proyek pemerintah. Dan ini belum termasuk proyek Inpres, yang berjumlah sekitar separuhnya. Ditambah proyek swasta yang diperkirakannya sekitar 2.000 juga. Tidak heran bila kemudian terjadi lonjakan jumlah biro arsitek. Tahun 1978 di seluruh Indonesia tercatat hanya 146 biro bangun-bangunan itu. Setahun kemudian jumlah itu meningkat lebih dari 100%: 316. Agaknya ini bisa dijelaskan dengan kenaikan APBN waku itu. Anggaran Pembangunan APBN 1978/79 hanya Rp 2.500 milyar lebih untuk tahun berikutnya, 1979/80, Rp 4.016 milyar lebih. Untuk tahun ini data jumlah biro arsitek memang belum terkumpul. “Tapi pasti lebih dari tahun sebelumnya,” kata Harjo Sabrang. Yang jelas, sejumlah biro arsitek di berbagai kota yang dihubungi TEMPO memang menyodorkan angka-angka yang menunjang citra betapa sibuknya arsitek kita kini. Biro Perencana Arkade di Medan misalnya. Lima tahun terakhir ini rata-rata mereka menggarap 40 proyek per tahun. Sebelumnya, menurut Ir. H. Amri Siregar, pendiri biro itu, ia hanya menangani paling banyak 20 proyek setahun. Pun di Bandung. Biro Urip, biro arsitek tertua di situ, merasakan benar kesibukan itu. Apalagi karena biro ini menjadi langganan LIPI, Departemen Perhubungan dan Departemen Penerangan. Perusahaan jasa ini didirikan oleh Urip Mangunrejo, seorang arsitek otodidak 1953. Sempat menjadi tempat praktek mahasiswa Arsitektur ITB tahun 50an–antara lain tercatat nama-nam Ciputra, Dirut PT Pembangunan Jaya, dan Hasan Poerbo, salah satu dari tiga profesor arsitektur di Indonesia. Memang benar, menurut Urip, bironya hanya menanyai rata-rata 8 proyek tiap tahunnya. Tapi, katanya, bila dulu nilai tiap bangunannya hanya puluhan juta, kini ratusan juta. Banunan besar, perkantoran terutama, boleh dikata memang baru muncul dalam dasawarsa terakhir ini. Di Yogya, intensitas kesibukan itu pun terbukti. Bila dua tahun lalu di kota andong itu hanya ada sekitar 20 biro arsitek, kini tercatat lebih 50. PT ACE Manunggal, salah satunya, tahun-tahun lalu paling banter beromset hanya Rp 1,5 milyar. Tahun belakangan ini men capai Rp 3 milyar. Biro ini, kata Ir. Saparto, direkturnya, 100% menggarap pesanan pemerintah. Juga PT Tand, Surabaya. Tahun 1976 biro ini mengerjakan delapan proyek seharga seluruhnya sekitar Rp 200 juta. Tiba-tiba saja, untuk 1978, garapan menjadi tujuh proyek tapi dengan jumlah rupiah lebih dari lima milyar. Untuk Jakarta sendiri, tempat beredarnya sebagian besar rupiah kita, jangan ditanya. PT Gubah Laras–yang didirikan antara lain oleh almarhum Ir. Sujudi, yang termasuk angkatan pertama sarjana arsitek kita–boleh jadi contoh.

Meskipun biro ini “kadang-kadang menolak klien karena ada ketidakcocokan selera,” omsetnya tetap naik. Perhitungan kasar yang disodorkan Ir. Utomo Brodjonegoro: di tahun 1970 nilai bangunan yang cukup berarti yang diselesaikan biro ini hanya Rp 85 juta Tapi tiga proyek yang diselesaikan pada 1980 menelan hampir Rp 700 juta. Dan proyek yang selesai sudah 1980 (misalnya gedung Sekretariat DPI Jakarta) maupun yang masih dalam tahap pelaksanaan (misalnya Hotel Nusa Dua di Bali) bernilai seluruhnya Rp 70 milyar. Perkembangan yang lain ditunjukkan oleh Atelier 6, yang populer disebut AT-6 itu. Didirikan 1976 oleh natl arsitek lulusan ITB, pada awalnyu biro ini menggarap 16 proyek. Tahun 1976 kejatuhan rezeki 29 proyek. 1978 menurun lagi, hanya 20 proyek – tapi tahun itu lahir cabang AT-6 di Bandung dipimpin Ir. Adhi Moersid, 40-an tahun, salah seorang dari enam pendiri itu. AT-6 Bandung kini sedang menggarap Pusat Kesehatan dan kantor PT Nurtanio. Dua uhun kemudian A1-6 bercabang lagi, di Bali, dipimpin Ir. Darmawan (Ketua IAI periode kedua, 1975-1980). Ir. Siddharta, 41 tahun, yang kini praktis memimpin kegiaun AT-6 di Jakarta, mengakui omset rupiah AT-6 memang selalu naik. Kini, dibanding saat pertama kali berdiri, “sekitar 100 kali lebih besar.” Dan boleh dicatat, PT Gubah Laras maupun AT-6 adalah contoh biro yant,g at,rak “pilih-pilih”. Ini penting. Sebab bila tidak pilih-pilih, seperti yang dikatakan Ir. Saiful Arifin, sebuah biro bisa panen (lebih) besar. Arsitek yang memimpin PT Arkonin sejak awalnya (1975) itu, menyebut 168 proyek yang ditanganinya lima tahun terakhir ini. Jadi rata-rata per tahun lebih 30 proyek. Itu saja setelah “pilih-pilih”. Semua itu proyek-proyek besar, yang fee-nya bagi si perencana sekitar 3,5%. Padahal arsitek pun kini disibukkan oleh pembangunan rumah pribadi. “Masyarakat tidak lagi menganggap arsitek sekedar tukang gambar,” tutur Han Awal, 52 tahun, arsitek berpendidikan Belanda dan Jerman. Direktur PT Han Awal and Co. itu merasakan hal tersebut mulai 1972. Dan mulai tahun itulah, lebih dari tahun-tahun sebelumnya, mereka yang hendak membangun rumah pribadi datang kepada arsitek profesional. Dan biro-biro arsitek, meski menganggap bangunan rumah pribadi “kecil untungnya”, tidak menolak. Hanya biasanya proyek pribadi kemudian digarap secara perseorangan oleh arsitek di biro itu — dengan honorarium yang tidak jatuh ke biro, tapi ke pribadi si arsitek. Ada alasannya memang. “Menggarap rumah perseorangan dengan manajemen seperti menggarap sebuah gedung perkantoran tentu tidak efisien,” tutur seorang arsitek yang tidak bersedia disebut namanya. Tapi menurut dia pula, proyek perseorangan seperti itu, yang ditampung di bironya, tidak banyak. “Saya kira sudah ada pengertian, ke mana orang harus memesan kantor, ke mana rumah pribadi,” tambahnya. Tapi ke mana? Studio T yang dipimpin Ir. Hindro Tjahjono Soemardjan,37 tahun, umpamanya, di samping menerima proyek besar juga melayani pesanan rumah pribadi — meskipun, menurut Hindro (yang juga ketua IAI periode ketiga, dipilih 1980), jumlahnya tidak banyak. Agaknya pesanan jenis itu lebih banyak yang lari ke arsitek free lance. Agak sayang juga, IAI belum sempat merapikan administrasinya. Hingga belum bisa diketahui, berapa arsitek free 1ance di Indonesia, berapa yang bekerja di biro, berapa yang dosen, berapa yang pegawai negeri lain. Agak susah dilacak seberapa pula sebenarnya intensitas pembangunan rumah pribadi di “zaman arsitektur” ini. Cuma hampir semua biro dan arsitek yang diwawancarai TEMPO sepakat, “pembangunan rumah perorangan pun meningkat.” Tapi beterbangannya lembar-lembar Jutaan dari saku para bouwbeer, yang kemudian menjelma jadi gedung-gedung megah dan rumah pribadi, bukan tidak disertai masalah. Misalnya: ada gedung yang ternyata menyebal dari suasana lingkungan. Gedung itu sendiri mungkin baik, tapi menjadikan tetangga di kanan-kirinya redup runyam. Dengan kata lain, gedung baru itu ‘merusak lingkungan”. Muncul juga pertanyaan, tidakkah arsitek hanya merencanakan lingkungan hidup bagi masyarakat yang punya uang? “Kita memang kikuk, dituduh hanya melayani sekelompok orang,” kata Adhi Moersid dari AT-6. Dalam diskusi yang diadakan mahasiswa Jurusan Arsitektur UI awal bulan ini, hal-hal itu muncul dengan tegas. Hindro Tjahjono ketua IAI itu misalnya, dalam diskusi tersebut melempar masalah, bahwa arsitek pada hakikatnya punya dua posisi unik. Satu kakinya, katanya, berada dalam dunia ilmu & teknologi yang rasional, sementara kaki yang lain dalam kaidah seni budaya yang bertaut dengan norma keindahan dan moral. Dan melihat kenyataan pembangunan di Indonesia, ia waswas. Tampaknya, katanya, arsitek kita baru girang membangun “asal membangun”. Motivasinya? “Apalagi bila bukan bisnis alias keuntungan.” Misalnya, ia mengkritik gedung-gedung di Jalan Thamrin, Jakarta, yang “jor-joran mau menang sendiri. ” Apalagi bila bangunan itu tidak sesuai dengan iklim tropis kita, menurut ketua IAI ini, sesungguhnya patut dipertanyakan: apa sebetulnya yang mendasari berdirinya bangunan itu. Disebutnya sebuah bangunan yang berdiri sedikit di arah timur Jalan Thamrin: gedung Bank Bumi Daya di Jalan Imam Bonjol. Kebetulan pula bangunan “hebat” itu direncanakan bukan oleh orang kita, melainkan oleh ketua ikatan arsitek Singapura. Dengan lebih halus, dosen arsitektur UI, Ir. Suwondo B. Sutedjo, pun menyiratkan masalah yang dihadapi para arsitek. Bukan lagi permainan visual, katanya, yang merupakan hakikat arsitektur masa kini. Tetapi penciptaan ruang tempat manusia hidup secara manusia. Di sini tiba-tiba kita teringat bangunan kompleks Pesantren Pabelan di Muntilan, Ja-Teng, yang mendapat hadiah arsitektur Aga Khan Award beberapa tahun lalu. Kompleks itu bukan main sederhana, namun sangat selaras dan enak didiami. Sejalan dengan itu Robby Sularto, 44 tahun, arsitek yang banyak mendalami seni bangunan tradisional Bali, memperingatkan pentingnya menengok arsitektur nenek moyang kita. Bukan soal bentuknya, melainkan hakikatnya. Supaya kita tidak asing hidup di negeri sendiri. Toh ada suara dan arsitek muda ITB, Hendro Sangkoyo. Ia ini melihat masalah idealisme arsitektur sebenarnya bukan masalah pribadi-pribadi. “Apa arti usaha baik seorang pribadi, bila dibenturkan pada satu sistem yang jauh lebih kuat?” tanyanya. Baiklah.

Apapun yang sedang terjadi, masalahnya agaknya bagaimana arsitek bisa bersikap wajar di negara berkembang (yang tropis) semacam Indonesia ini. Soalnya benda arsitektur memang bukan seperti lukisan, yang bisa disimpan dalam kamar untuk pemiliknya sendiri. Satu bangunan berdiri di tengah sebuah lingkungan. Ia membentuk suasana, dan menjadi ‘milik sosial’. Sebuah karya arsitektur yang jelek, kata orang, adalah penghinaan kepada orang yang memandangnya. Itu memang masalah di belakang segi bisnis.

Posted in Kliping 1982 | Tagged , , , | Leave a comment

Sanksi Berat, Pagter Bekerja Benar

Sumber: Warta Kota
Senin, 27 Juni 2011

PEJAGALAN atau rumah pemotongan hewan juga menjadi perhatian Nicolaus de Graaff (1619-1688) ketika datang ke Batavia pada masa awal kota ini didirikan orang-orang Belanda, yakni awal 1600.



Dua buah pejagalan dibangun di pinggir Kali Besar. Kedua bangunan itu didirikan di atas tiang dengan atap yang tinggi (barangkali untuk ventilasi). Letak bangunan bertiang itu, yang persis di atas sungai, memudahkan orang membuang sampah dari pejagalan langsung ke dalam sungai yang mengalir di bawahnya.

Dua kali seminggu dilakukan pemotongan hewan. Setiap penjagal mempunyai meja kerja sendiri-sendiri untuk menjual daging hasil pemotongannya kepada penduduk (dalam kota) dengan harga yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebelum para penjagal itu memotong hewan, seorang pagter menilai harga hewan itu (pagter atau pachter dalam bahasa Belanda kontemporer berarti penyewa, tapi tampaknya orang ini menjalankan tugas pegawai dinas pasar masa kini).

Sepersepuluh nilai hewan itu harus dibayarkan kepada sang pagter sebagai upahnya menaksir harga hewan tadi. Bila taksiran harga itu dianggap terlalu tinggi oleh penjagal lain, pagter itu sendiri terpaksa membeli hewan itu dengan harga tinggi yang ditentukannya. Cara ini mendorong para pagter untuk menaksir harga hewan potong dengan baik. Para penjagal berhak menilai kerja dan taksiran pagter, sehingga si pagter tidak akan berani begitu saja menentukan tinggi-rendahnya nilai seekor hewan yang akan dijagal.

Sementara itu, Pasar Ikan juga merupakan bangunan bertiang yang dibangun di atas dan di dekat sungai yang sama. Bagian atasnya pun tertutup oleh atap yang tinggi. Di tengah-tengah bangunan itu terdapat rumah tempat tinggal tukang-tukang ikan. Setiap nelayan yang datang dari laut merapat di bangunan pasar itu. Pada saat itu pula, ikan yang baru saja ditangkap dilelang dan dijual kepada orang yang menawar dengan harga paling tinggi.

Biasanya pembeli ikan-ikan itu adalah orang-orang etnis China. Mereka dapat menjual ikan-ikan itu di kios masing-masing bila telah membayar sewa sebanyak 5 gulden per bulan.

Bila semua ikan terjual, para nelayan dibayar oleh juru lelang ikan yang mendapatkan upah pelelangan sebesar 20 sen dari setiap real yang terjual. Real adalah satuan berat yang sebetulnya digunakan untuk menimbang logam mulia. Satu real kira-kira 8/9 ons. Penjualan ikan dilakukan dari pukul 10.00 sampai pukul 16.00, setiap hari. (frieda.amran@yahoo.com, anggota Asosiasi Antropologi Indonesia )

Posted in Kliping 2011 | Tagged , , , , , , | Leave a comment

JOHN LIE

Salah satu tokoh etnis Tionghoa yang berjasa kepada Republik ini adalah Mayor John Lie Tjeng Tjoan.Lahir di Menado 19 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Maryam Oei Tjeng Nie(keduanya penganut Budha).John Lie meninggal karena stroke 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,Jakarta.
Mendapat Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden Soekarno tahun 1961
Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 November 1995

Ia adalah mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM yang lalu bergabung dengan Angkatan Laut RI.Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten.Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan sekutu.Atas jasanya pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor.
Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas Negara yang saat itu masih tipis.Pada masa awal (tahun 1947),ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura,Utoyo Ramelan.Sejak itu,ia secara rutin melakukan operasi menembus blockade Belanda.Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata.Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda,juga harus menghadang gelombang samudera yang relative besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.
Untuk keperluan operasi ini,mayor John Lie memiliki kapal kecil cepat,dinamakan the outlaw.
Seperti yang dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar(1992),paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi “penyelundupan”.Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit,ia ditangkap perwira Inggris.Di pengadilan Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum.Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera,dihadang pesawat terbang patroli Belanda.John Lie mengatakan,kapalnya sedang kandas.Da penembak,seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku,mengarahkan senjata ke kapal mereka.Entah mengapa,komandan tidak mengeluarkan perintah menembak.Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden,mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga buru-buru pergi.Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah,mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB.Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar,bensin,makanan,senjata,dan keperluan lain perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menikah di Usia 45 tahun dengan Margaretha Dharma Angkauw thn 1956.Perkawinan ini tidak dikaruniai anak.

Mayor John Lie bersama keluarga di GBIP Imanuel

Pada awal 1950 ketika ada diBangkok,ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali.Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS di Maluku,lalu PPRI/Permesta.John Lie juga di kenal dengan nama Jahya Daniel Dharma tetap berdinas di Angkatan Laut,terakhir berpangkat Laksamana Muda.

(-Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa,oleh Asvi Warman Adam-Kompas 31-1-2003
- Sho Bun Seng,Pahlawan Pejuang,Mengabdi untuk Negara Tanpa Kenal Pamrih-
Majalah Sinergy 15-9-2001
-John Lie:Kisah Pejuang Tanpa Gelar-Majalah Suara Baru Maret-April 2009
-John Lie Menyelundup Demi Negara – Intisari Juli 2009)

Posted in Histo-heritage | Leave a comment

36 Strategi Bisnis China

36 Strategi Dagang China Klasik Yang Sukses !

(Sumber: Buku The Best of Chinese Strategies oleh Leman)

Sebenarnya, secara sadar atau tidak sadar, para pengusaha yang sukses telah banyak
menggunakan dan memanfaatkan ke-36 Strategi China Klasik yang telah berumur ribuan tahun dalam mencapai tujuan mereka. Mulai dari perusahaan kecil, bahkan perusahaan raksasa seperti Microsoft dan Oracle.

Dengan filosofi menghindari kompetisi langsung adalah cara yang paling cerdik dalam berkompetisi, dikelompokkan menjadi:

Indirect Action Strategies
Ada 6 strategi dalam kelompok ini yang menekankan bagaimana melakukan tindakan aksi dan perlawanan secara tidak langsung untuk memenangkan persaingan. Contoh ketika Garuda diserang oleh budget airline, ia tidak latah ikut menurunkan harga, tetapi bersaing secara tidak langsung dengan memperkenalkan Citilink dengan harga tiket yang lebih murah. Dan ketika Sosro dihadang oleh Tekita yang menawarkan benefit ukuran yang lebih besar, Sosro melayaninya dengan membuat merek baru S-tee.

Continous Change Strategies
Ada 3 strategi dalam kelompok ini yang menekankan pentingnya memasuki dan menciptakan pasar baru dengan memanfaatkan momentum yang tepat. Hal senada juga diungkapkan oleh Al Ries dan Jack Trout dalam buku Positioning: The Battle for Your Mind. Mereka menekankan untuk menjadi leader sangat penting memasuki benak prospek sebagai yang pertama (it’s better to be first than to be bette).

Wu Wei (”No-Action”)
Ada 6 strategi dalam kelompok ini yang menekankan dan mengajarkan bagaimana mendapatkan hasil lebih dengan upaya yang seminimal mungkin. Bahkan “no-action”, seperti salah satu perusahaan ritel menerapkan salah satu strategi dalam kelompok ini. Untuk mendapatkan harga yang wajar, perusahaan tersebut tidak perlu turun tangan mencek harga-harga ke kompetitor. Ia cukup menggunakan tag line, “Bila Anda menemukan harga yang lebih murah, kami kembalikan selisihnya”.

Confusion Strategies
Ada 3 strategi dalam kelompok ini yang menekankan bagaimana kita memanfaatkan momentum walaupun dalam keadaan kirtis, kacau, bencana dan sebagainya untuk meraih keuntungan. Bahkan “bencana” yang menimpa kompetitor, seperti ditariknya produk dari pasaran harus menjadi perhatian kita, untuk segera mengisi kekosongan dan memanfaatkan momentum tersebut untuk menciptakan awareness.

Deception Strategies
Walaupun mengandung makna negatif, jika diaplikasikan dalam kerangka hukum adalah sah-sah saja. Ada 6 strategi dalam kelompok ini. Salah satunya yaitu meniru yang dikenal dengan istilah “me-too”.

Winning Strategies
Ada 2 strategi dalam kelompok ini yang menekankan justru dalam posisi puncak, posisi sukses kita harus lebih waspada, harus lebih menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan yang telah mengantarkan kita ke posisi tersebut. Misalnya dengan program loyalitas pelanggan untuk tetap maintaining performa perusahaan.

Confrontation Strateges
Dengan memiliki kekuatan lebih yang diperoleh dari partner, relasi dan sekutu Anda bisa bersaing secara langsung dengan kompetitor. Ada 2 strategi dalam kelompok ini.

Desperate Strategies
Anda tidak mungkin selamanya menang, atau Anda tidak mungkin selamanya berkuasa. Bagaimana Anda menyikapi hal-hal tersebut ketika dalam keadaan terdesak ? Ada 7 strategi yang bisa dipelajari dalam kelompok ini.

The Strategy of Linking Strategies
Ada kalanya satu strategi saja tidak cukup untuk mendapatkan hasil optimal, oleh sebab itu perusahaan harus menggabungkan beberapa strategi secara bersamaan atau berurutan untuk saling bersinergi.

Posted in Bisnis | Comments Off

Perkembangan Isu “Density” dalam Gerakan Arsitektur Kritis

Perkembangan Isu “Density” dalam Gerakan Arsitektur Kritis



ABSTRAKSI
Isu ”density” merupakan salah satu isu yang paling menarik untuk diikuti perkembangannya, dan masih aktual hingga saat ini. Dinamika peradaban manusia menjadikan isu ini dinamis dan semakin menarik untuk diikuti. Perkembangan dunia hingga saat ini masih memposisikan kota sebagai pusat-pusat peradaban, dimana manusia satu dengan yang lain dipaksa untuk saling bertemu dan bernegosiasi, menciptakan sebuah budaya baru kota era kontemporer. Kondisi perkotaan di Eropa, Amerika maupun Asia memang berbeda secara konsep maupun bentuk ikatan sosial yang ada di dalamnya. Meski demikian, ”density” sama-sama menjadi isu penting pada masing-masing daerah tersebut. Urban sprawl-compact city, globalisme-regionalisme, modernisme-postmodernisme, strukturalisme-poststrukturalisme, neourbanisme-posturbanisme, hanya sebagian atribut yang mewarnai perkembangan isu ”density” terkait dengan kondisi masyarakat perkotaan hingga saat ini. Dengan melihat begitu luasnya isu ”density” tersebut, maka makalah ini akan dibatasi dalam konteks ”Gerakan Arsitektur Kritis”. ”Gerakan Arsitektur Kritis” sendiri merupakan bagian dari gerakan arsitektur postmodern yang merupakan anti-tesis dari gerakan arsitektur modern.

LATAR BELAKANG
Era Modern, Urbanisme dan Perkembangannya
Era Renaissance yang dimulai pada pertengahan abad 14 merupakan gerakan yang mengawali munculnya “proyek pencerahan” era modern. Era ini muncul untuk membebaskan manusia dari belenggu dogmatis agama di Eropa abad pertengahan, pada era gothic. Menggeser paradigma manusia yang tunduk kepada dogma, menjadi manusia yang berfikir untuk eksistensi manusia. Kalimat Descartes, “Cogito ergo sum!” (“aku berfikir, maka aku ada!”), mewakili paradigma era modern awal ini (Suriasumantri, 2003).
Masa-masa yang disebut sebagai “abad pencerahan”, abad ke-15 hingga abad ke-20, menghadirkan berbagai kemajuan penting dalam berbagai bidang ilmu yang ditandai dengan munculnya empirisme ilmiah, filsafat positif logis, materialisme, nihilisme dan tentu saja revolusi industri sebagai manifesto dari semua itu. Pemisahan-pemisahan dalam berbagai cabang ilmu terjadi karena pengembangan ilmu menuntut sedemikian rupa, sebagai bagian dari revolusi industri (Suriasumantri, 2003). Pada kenyataannya, pemisahan tidak hanya terjadi dalam cabang ilmu, struktur sosial serta interaksi sosial antar manusia juga terkotak-kotakkan sedemikian ketatnya. Manusia hidup dalam koridor standar hidup baku dan kelas-kelas sosial masing-masing. Hal ini menjadi penting dalam bahasan ini karena paradigma struktural modern masih berpengaruh dalam perkembangan ilmu psikologi, arsitektur dan ilmu sosial modern lainnya. Paradigma poststruktural sendiri mulai lazim digunakan pada era postmodern, sebagai upaya dekonstruksi ketatnya hierarki struktural era modern. Sama seperti era pra-industri (renaissance), yaitu membongkar mitos dan doktrin era sebelumnya (modern).
Era modern menciptakan kota-kota yang dianggap sebagai manifesto kemajuan zaman. Kota-kota yang dibangun di atas utopia tunggal warga kotanya, kota yang modern. Sangat tidak mengherankan bila kemudian terjadi proses-proses untuk meng-kota-kan, atau disebut juga sebagai urbanisme.
Urbanisme kota-kota modern pada dasarnya berpegang pada piagam Athena (1993), yang menggunakan paradigma kota adalah sebuah mesin dengan bagian-bagian yang memiliki fungsi tertentu (Corbusier, 1925). Dari paradigma ini, kota berkembang menjadi zona-zona dengan fungsi masing-masing. Sehingga terbentuk masyarakat kota yang terkotak-kotak dan hanya terhubung berdasar pada efisiensi fungsi dan kerjanya. Urbanisme modern tersebut menghasilkan manusia-manusia yang tidak “saling mengenal”. Ketidak “saling mengenal”-an ini menjadi penting bila dikaitkan dengan konsep “density” Milgram (1970) dan Seagert (1978), terkait dengan kelebihan stimulasi/ informasi (dalam Bell, et.al., 2001). Atau dengan konsep Stokols (1972) dan Sunstorm (1982) mengenai pembatasan perilaku (dalam Bell, et.al., 2001). Dalam perkembangan kota, juga dikenal pendekatan baru yang disebut neo-urbanisme. Pendekatan ini pada dasarnya adalah pendekatan ekologis terhadap bentuk kehidupan manusia penghuni kotanya, ekologi perkotaan.
Manusia Kota dan Budaya Kota
Manusia kota atau manusia urban, sebutan bagi penghuni dan pengguna kota, melahirkan budaya baru yang disebut budaya kota (Urban Culture). Budaya ini muncul di tengah berbagai persinggungan budaya yang terjadi dalam sebuah kota. Fenomena budaya tersebut merupakan manifestasi dari keberagaman dan tingkat kompleksitas sebuah kota (Urban Complexity). Masing-masing elemen pembentuk “budaya kota” muncul dalam bentuk sistem tanda, yang merupakan representasi setiap elemen tersebut. Secara garis besar, budaya kota merupakan hasil komunikasi setiap elemen pendukungnya.
Ruang kota (Urban space) sebagai bentuk fisik nyata “tempat” dalam sebuah kota dimana manusia kota yang satu dan yang lain akan saling bersinggungan menghadirkan satu kompleksitas hubungan antar elemen pembentuknya. Ruang kota, menjadi penting untuk dibicarakan karena, hadir di tengah-tengah kompleksitas kota secara sadar maupun tidak sadar. Kehadirannya merupakan akibat sekaligus sebab munculnya kompleksitas dalam sebuah kota. Ruang kota muncul, sebagai ruang antara, akibat kepadatan elemen-elemen pembentuk kota yang lain. Ruang kota sekaligus menjadi tempat dimana elemen-elemen pembentuk ruang kota bertemu, dan menimbulkan kompleksitas tersendiri bagi kota tersebut. Dalam konteks hubungan antar elemen ruang kota inilah terjadi sebuah tawar-menawar posisi hak dan kewajiban di antaranya. Kondisi saling mempengaruhi ini merupakan sebuah dialog yang akan terus terjadi dan tidak pernah berhenti dalam sebuah kota.
“The city is a discourse and this is truly a language: the city speaks to its inhabitants, we speak our city, the city where we are, simply by living in it, by wandering through it, by looking at it.” (Barthes, dalam Leach, 1997).

Memahami kota, budaya kota dan bentuk komunikasi perkotaan menjadi penting dalam bahasan ini karena munculnya isu “density” sangat erat terkait dengan kondisi perkotaan pada saat ini. Sedangkan Perkembangan terkini dari kota-kota industrial era modern menjadi kota-kota post-industrial, termasuk keberadaan era informasi dan komunikasi digital, telah merubah bentuk komunikasi sosial yang terjadi di kota-kota masa kini. Secara fisik dapat kita lihat di setiap sudut kota masa kini akan dipenuhi dengan informasi secara masif, dalam bentuk tulisan, warna, ikon, logo, simbol, bentuk, suara maupun perilaku seseorang. Sehingga pembatasan isu “density” dalam makalah ini diterjemahkan sebagai sebuah “urban density” terkait erat dengan keberagaman jenis, bentuk, pelaku dan tujuan informasi yang terjadi di sebuah kota pada saat ini.
Perkembangan yang disebutkan di atas mempengaruhi perubahan kemampuan masing-masing individu (manusia kota) dalam menerima dan mengolah informasi yang ada. Coupland (1991) menunjukkan keberadaan manusia-manusia “Generation X”, lahir antara tahun 1964-1978, yang sangat kritis terhadap mitos dan doktrin yang memarjinalkan. Namun dalam kenyataannya generasi ini juga masih menerima bentuk struktur-struktur tertentu yang diyakininya. Generasi ini juga sangat kritis terhadap isu “density” perkotaan yang terjadi pada saat itu. Selanjutnya Coupland (1995, 2006), dan diperkuat dengan penelitian oleh “Spectrum Knowledge” tahun 2008, memperlihatkan keberadaan manusia-manusia “Generation Y” yang lahir setelah tahun 1978, yang terbukti memiliki kemampuan multi-tasking dan kemampuan bekerja dengan kelompok orang. Manusia yang lahir setelah tahun 1978 ini mampu menerima dan mengolah banyak informasi secara bersamaan, dalam kondisi gaduh sekalipun, karena terlahir (native) dalam suasana perkotaan yang sudah berpadat-padatan (congested). Manusia yang terlahir antara tahun 1964-1978, meski melakukan adaptasi (adaptation) terhadap kondisi kota tersebut, namun tidak sebaik “Generation Y” yang native sejak lahir. Ninok Leksono dalam artikelnya, menjelaskan bagamana era informasi dapat membentuk manusia-manusia super yang sangat kuat dalam mengolah informasi masif (Kompas, 17 Juli 2008).

ISU “DENSITY” DAN PERKOTAAN
Density sebagai mitos dan sebagai realita
Dalam Perkembang isu “density”, dapat kita lihat bagaimana “density” dilihat melalui 2 (dua) sudut pandang berbeda. Sebuah konferensi berjudul “Density: Myth and Reality” diadakan di Boston tanggal 11-14 September 2003, membahas adanya pergeseran diantara 2 (dua) sudut pandang tersebut. Sudut pandang yang pertama adalah “density” sebagai sebuah mitos, sebagai obyek telaah yang situasional. Pandangan ini banyak digunakan dalam paradigma dan teori-teori modern hingga postmodern awal. Dalam pandangan ini, “density” tinggi dimitoskan sebagai kondisi situasional yang “kurang” ideal, sehingga dianggap tidak menguntungkan. Hal ini banyak berpengaruh terhadap pemikir-pemikir Amerika pada era industri. Buku “Environmental Psychology” karya Bell et.al. (2001) terlihat masih cukup banyak menggunakan hasil penelitian di Amerika tahun 1960 – 1970an sebagai contoh. Sehingga pada beberapa kasus terlihat adanya gap antara hasil penelitian yang dicontohkan, dengan kondisi masyarakat pada saat ini.
Pada sisi lain, isu “density” juga mulai banyak dikaji sebagai sebuah realita. Dalam konteks arsitektur, buku Jane Jacobs, “The Dead and Life of Great American Cities” tahun 1961, mengkritisi bentuk-bentuk kota di Amerika era modern. Jacob menawarkan konsep urbanisme baru yaitu “diversity, density and dynamism”. Buku lain yang ditulis Robert Venturi, “Complexity and Contradiction in Architecture” tahun 1966, juga merupakan karya yang berpengaruh dalam perkembangan isu urban density.
Teori “defensible space” oleh Oscar Newman tahun 1972 (dalam Newman, O., 1996), merupakan salah satu konsep praktis yang menandakan peralihan cara pandang dari “density” sebagai obyek penelitian, menjadi “density” sebagai realita yang dihadapi sehari-hari. Isu “density” bergeser menjadi sebuah kondisi yang dihadapi melalui tindakan praktis. George Thrush (2003) dalam makalah jurnal memberikan gambaran kondisi perkotaan saat ini, serta gap yang terjadi antara mitos dan realita yang ada.
“Public-ness defined as the absence of development, rather than its character, qualities, identity (Perhaps the “natural” condition of cities is density) “, (Thrush, 2003)

Human Ecology: individual oriented dan system oriented
Dilihat dari obyek amatannya, studi terkait dengan isu “density” juga dapat dibagi menjadi 2 (dua). Yang pertama adalah studi berorientasi individu, banyak dilakukan pada studi-studi psikologi modern. Studi ini akan banyak mempelajari keterkaitan isu “density” lingkungan dengan pengaruhnya pada individu. Yang kedua adalah studi berorientasi sistem. Dalam jurnal Human Ecology, Peter Newman dan Trevor Hogan (1981) dalam artikel berjudul “A Review of urban density models”, menuliskan ada kecenderungan studi akhir-akhir ini lebih mengarah pada kajian sistemnya. Dengan obyek amatan terhadap sistem, sebuah fenomena dilihat secara menyeluruh (holistik) dan kontekstual. Dari perkembangan studi terakhir inilah “density” ternyata memiliki banyak aspek positif dalam konteks ekologi sebuah kota.
“The physical or systems-oriented studies (which involve economic, ecological, historical, and engineering models) suggest advantages in costs, energy, environment, and transport from increasing urban density.” (Newman, P., Hogan, T., dalam jurnal Human Ecology, 1981)

Budaya Kota: Adaptasi dan Evolusi
Adaptasi manusia terhadap lingkungan kota dijelaskan melalui teori adaptasi Firey (1974, dalam Carter, 1976). Adaptasi tersebut terkait dengan bagaimana seseorang mengkomunikasikan diri terhadap lingkungannya kotanya. Terdapat 2(dua) jenis bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan urban. Adaptasi volisional adalah penyesuaian atas dasar kemauan sendiri, selama nilai-nilai yang mengungkapkan identitas pada sistem kulturnya mendapatkan artikulasi spasial. Adaptasi rasional yaitu penyesuaian diri dengan dasar keinginan menguasai dengan keuntungan ekonomi yang telah terbentuk dalam kontrol budaya. Apabila penyesuaian tersebut tidak berhasil, maka yang terjadi adalah culture alienation, merasa terasing terhadap kondisi kota tersebut. Pergeseran dari kota agraris menjadi kota industrial modern dan menjadi kota post-industrial (masyarakat informasi) merupakan peralihan yang terjadi dengan relatif cepat. Secara umum hal tersebut yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap kondisi kota yang terus berubah, termasuk dalam konteks isu “density”.
Sebagaimana dijelaskan oleh Douglas Coupland (1991, 1995, dan 2006), di atas, terdapat beberapa jenis manusia kota, yang secara bertahap berubah dari manusia era material (empiricism) menuju manusia era informasi. Meminjam model eklektis psikologi lingkungan Bell et.al. (2001), hal tersebut akan terkait dengan siklus proses secara terus menerus sehingga terjadi adaptasi positif terhadap kondisi kota yang padat. Kondisi kota yang padat dengan berbagai bentuk informasi direspon dengan adaptasi, mengurangi jumlah informasi yang dihiraukan, atau menggeser preferansi individualnya.
Pada sisi lain terdapat teori adaptasi Lamarck (1809), adaptasi Darwin (1859) dan evolusi Baldwin (1896). Lamarck menjelaskan adaptasi evolutif sebagai proses fisik merespon kebutuhan lingkungannya. Darwin menjelaskan adaptasi evolutif sebagai proses genetik yang diturunkan antar generasi. Sedangkan Baldwin menjelaskan bahwa interaksi seseorang dengan lingkungannya akan meningkatkan kemampuan dan secara bertahap akan terintegrasikan sebagai peningkatan genetik pada generasi-generasi selanjutnya.
Terkait dengan isu “density” dan perkembangan kemampuan manusia penghuni kotanya, maka budaya kota yang terbentuk hingga saat ini merupakan proses adaptasi manusia kota dengan kondisi lingkungan kota yang padat dan beragam. Manusia “generation Y” (Coupland, 1995) merupakan sebuah produk evolusi manusia perkotaan, yang memerlukan kemampuan menerima dan mengolah informasi yang padat serta beragam tersebut.
Berbagai teori aktual, mengenai urban density (diterjemahkan sebagai diversity dalam beberapa teori) dan realita budaya kota, semakin menunjukkan keterkaitan positif di antara keduanya.
“… urban design demands the ultimate creation of cities which will provide a creative environment for people, that is, an environment with great diversity, allowing freedom of choice and generating the maximum interaction between people and urban surroundings” (Halprin, 1978)

“Diversity encourages creativity, while repetition anaesthetises it. … But whatever the cause, such homogeneity makes it difficult for the user to add anything of their own, and we lose that rich resource of popular creativity which can transform a space into a place and give it life. … This should remind us that it is inhabitants who really create the city and not the planner.” (Kroll, 1983)

New-urbanism dan post-urbanism
Douglas S. Kelbaugh (2003), melalui artikel “Density – the D Word”, dalam konferensi AIA, melihat pergeseran dan perdebatan paradigma perencanaan dan perancangan terkait dengan isu urban density. Pembahasan Kelbaugh terkait dengan fenomena urban sprawl yang terjadi di kota-kota post industrial. New-urbanism dijelaskan sebagai strategi untuk kembali pada perencanaan yang lebih tradisional, dengan memperlambat tempo manusia dan kendaraan di kota (slow urbanism). Pada beberapa kasus ekstrim terlihat adanya penolakan terhadap pembaruan teknologi, dalam berbagai kritik disebut sebagai “overly traditional”.
Pada sisi lain Kelbaugh juga menjelaskan istilah post-urbanism, yang mengkritisi pendekatan tradisional new-urbanism. Pernyataan Koolhaas, Libeskind, dan Gehry “Personally, I think there is room in New Urbanism for buildings – but not neighborhoods”, mewakili kritik gerakan ini terhadap new-urbanism. Post-urbanism sendiri dijelaskan sebagai sebuah “fast urbanism”, pendekatan yang tidak mengabaikan budaya konsumtif kota, keberanian dan kebebasan desain serta teknologi yang tidak pernah berhenti berkembang. Dalam perkembangannya, fast urbanism ini mengalami transformasi lanjut dalam gerakan arsitektur kritis terbaru. (akan dijelaskan pada bagian selanjutnya).

GERAKAN ARSITEKTUR KRITIS
Derrida, Hays dan Peter Eisenman: Dekonstruksi Nihilisme
Gerakan-gerakan kritis secara umum berada di bawah paradigma rasionalisme. Feurbach, Nietzsche, Freud, Kierkegaard, Hegel dan Marx dianggap mewakili awal munculnya gerakan ini. Generasi awal tersebut banyak mengkritisi peran agama dalam kehidupan manusia. Hegel memperkenalkan idealisme, sedangkan Karl Marx mengembangkan melalui kritik ideologinya. Pada tahap ini gerakan teori kritis menemukan fungsinya untuk menyentuh realitas konkrit. Frankfurt school, mewakili perkembangan gerakan teori kritis sejak perang dunia II. Dari gerakan ini lahir gerakan-gerakan neo-leftish (neo-marxist). Generasi terakhir teori kritis diwakili oleh teori Jurgen Habermas dan Derrida, terkait dengan bentuk masyarakat komunikatif era postmodern.
Dalam konteks gerakan arsitektur kritis, nama Jacques Derrida, Michael Hays dan Peter Eisenman dikenal mengawali gerakan ini. Michael Hays sendiri seorang teorist dan kritikus arsitektur yang banyak “mencatat” perkembangan kritik dalam perkembangan dan sejarah arsitektur.

Hays merupakan editor utama sebuah jurnal kritis MIT mengenai arsitektur dan desain yang berjudul “Assemblage”, antara tahun 1986-2000. Bukunya yang berjudul “Architecture Theory since 1968” terbit pada tahun 2000.
Jacques Derrida, merupakan seorang filsuf yang mempopulerkan dan menggunakan metoda dekonstruksi dalam karya-karyanya. Metode dekonstruksi digunakan untuk melakukan kritik terhadap posisi ilmu filsafat itu sendiri. Hal tersebut yang membuat Derrida sulit diterima sebagai seorang filsuf, namun lebih diterima oleh golongan sastra. Peter Eisenman adalah seorang arsitek yang beberapa kali bekerja sama dengan Derrida dalam karya-karyanya. Buku Chora L Works, tahun 1997, merupakan dokumentasi kerjasama Derrida dan Eisenman dalam proyek kompetisi desain Parc de la Villete. Buku ini menjadi gambaran betapa rapuhnya hubungan makna dalam arsitektur dekonstruksi. Eisenman dalam berbagai wawancara juga selalu akan menjadi seorang desainer yang berada di tengah-tengah. Hal tersebut yang kemudian memunculkan banyak kritik, dan meletakkannya sebagai arsitek dekonstruksi nihilism, sebagai seorang yang mempercayai tidak adanya nilai yang benar (dalam wawancara Eisenman, 2004).

Istilah dekonstruksi nihilis juga disebutkan Charles Jencks (1995), dalam bukunya “The Architecture of the Jumping Universe”. Dalam berbagai review dan kritik, desain Eisenman dikategorikan sebagai karya-karya yang tidak ramah terhadap penggunanya. Meski menurut Eisenman, hal tersebut merupakan caranya untuk melakukan kritik terhadap kehidupan masyarakat kotanya, dengan mendekonstruksi cara berfikir pengguna desainnya. Kritik Eisenman tersebut ditujukan untuk menunjukkan keberadaan “density” sebagai realita perkotaan saat ini. Pada tahap ini Eisenman cenderung sebatas memaparkan, dan mengajak pengguna desainnya untuk berfikir kembali tentang realita keberadaan isu “density” tersebut.
Bernard Tschumi, Rem Koolhaas, dan Daniel Libeskind: Arsitektur Avant-garde
Bernard Tschumi adalah salah satu pemenang kompetisi desain Parc de la Villete yang akhirnya terbangun secara fisik. Meski berkarya pada era yang sama dengan Eisenman, Tschumi cenderung digolongkan sebagai praktisi arsitektur kritis tahap berikutnya, kedua. Tahap kedua ini tidak lagi hanya sebatas memaparkan kritik-kritik “density” pada tataran konseptual yang ketat, namun memasuki dunia arsitektur praktis dengan “elegan”. Istilah “elegan” perlu digaris bawahi karena pada tahap ini, desain masih bersifat avant-garde. Dalam arti, desain bersifat top-down meski pengguna diberi ruang-ruang partisipatif untuk terlibat dalam desain. Parc de la Villete Tschumi adalah sebuah transformasi realita “density” dalam sebuah konsep terpadu yang sinematik. Menciptakan kepadatan melalui peralihan yang terpotong-potong antara tema dan elemen, air, tanaman, paving, dan struktur, melalui 3 lapis desain surfaces, points dan lines.
Tema-tema beragam dan elemen yang terpotong-potong merupakan usaha menciptakan “density” sekaligus melibatkan pengguna desain untuk ikut memaknai ruang diantara “density” yang beragam tersebut (Turner, 2005). Metoda-metoda analisis dan desain Tschumi berkembang dari buku ini. Sebagian besar karya tulis Tschumi terkait dengan isu “urban density” tidak menjelaskan “density” secara eksplisit. Teori “space event and movement” diterjemahkan sebagai metoda mengolah kondisi padat kehidupan perkotaan, dengan memberi makna-makna baru. Dalam buku “Madness and Combinative”, Tschumi juga menjelaskan realita kondisi “madness” di masyarakat, diperbandingkan dengan schizophrenia, dapat dipulihkan dengan mengumpulkan kembali realita-realita yang terserak. “The Manhattan Transcript” tahun 1981, merupakan karya Tschumi mengenai fragmen-fragmen realita kota Manhattan yang terserak yang sedang dibangun kembali (dalam Wastuty, 2006).
Rem Koolhaas juga merupakan salah satu arsitek yang intensif dalam perkembangan isu “density”. Buku berjudul “Delirious New York”, tahun 1978, merupakan buku penting sebagai manifesto kehidupan perkotaan yang delirious (tergila-gila; mengigau) Kota Manhattan. Dibandingkan dengan “The Manhattan Transcript”-nya Tschumi, karya Koolhaas lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang struktural dibalik kekacauan yang terjadi. Struktur tersebut disebutnya sebagai manifesto kota abad ke-20, sebuah “culture of congestion” (budaya berpadat-padatan). Buku ini menjadi awal penting bagaimana isu “density” dapat terintegrasi ke dalam struktur formal desain arsitektur. Seluruh karya tulis Koolhass cenderung memiliki isi (content) yang bobot, namun disajikan melalui kolase-kolase grafis populer yang sangat padat. Desain Koolhaas dalam kompetisi Parc de la Villete juga menjadi salah satu pemenang, selain Bernard Tschumi, meski bukan yang terbangun. Pada kompetisi ini Koolhaas juga menampilkan konsep “density”, sama dengan Tschumi, namun menggunakan pendekatan yang berbeda. Dalam konsepnya, Koolhass melakukan superimposisi 5 (lima) sistem terpisah, dengan ukuran grid yang berbeda. Dengan cara tersebut Koolhaas menciptakan “density” melalui chaos yang terstruktur. Dalam karya-karya desain selanjutnya, Koolhaas selalu melakukan analisis keberadaan ”congestion lines” sebagai bagian dari desain. Garis congestion, sebagai sebuah manifesto “density”, ini merupakan bagian yang tidak bisa tidak difasilitasi dalam desain Koolhaas. Selain itu, Koolhaas juga menerapkan strategi ruang terprogram di antara ruang tidak terprogram sehingga tercipta ruang bebas bagi pengguna untuk makna personal. Buku S, M, L, XL menawarkan konsep bigness, dimana skala perkotaan pada saat ini memungkinkan kulit bangunan (enclosure) dan kegiatan internal (program) untuk berdiri sendiri-sendiri tanpa ada kaitan.
Daniel Libeskind adalah arsitek yang biasa memulai desain dari garis. Garis-garis dalam konsep desain Libeskind mewakili beberapa hal yang dianggap penting dan kontekstual. Garis-garis (invisible lines) tersebut tidak terlihat, namun mewakili sejarah, power, simbol, dialog dan pergerakan yang dianggap penting. Meski tidak banyak menampilkan teori, namun desain Libeskind banyak menampilkan sirkulasi yang interaktif. Bangunan karya Libeskind banyak dikategorikan sebagai bangunan yang mampu berdialog dengan penggunanya. Keterikatan pengguna desain dengan desainnya merupakan strategi desain Libeskind agar realita perkotaan yang padat berpengaruh positif terhadap masyarakat kotanya.
Satu hal yang dapat ditarik dari gerakan arsitektur kritis tahap kedua ini adalah, bagaimana “density” bukan lagi sebagai obyek kritisi, namun sistem struktur yang ada yang perlu dipertanyakan kembali. Karya arsitek sebagai struktur formal bukan lagi untuk mengurangi kepadatan perkotaan (urban density), namun untuk memberi efek positif dari kekacauan yang muncul akibat kepadatan tersebut. Mengumpulkan fragmen-fragmen terserak; sirkulasi berdasarkan congestion lines; programming; serta dialog antara pengguna dan desain, adalah beberapa strategi terkait dengan isu “density”. Hal yang kemudian membedakan dengan tahap berikutnya adalah, pada tahap kedua ini arsitek memposisikan diri sebagai desainer peristiwa yang terjadi di dalam desain. Meski memberi ruang bebas di antara struktur formal, namun desain pada tahap ini masih top-down. Hal tersebut menjadikan gerakan tahap kedua bersifat avant-garde terhadap penggunanya.
MVRDV: Projective Architecture
MVRDV merupakan singkatan dari nama pendirinya, Winy Maas, Jacob van Rijs dan Nathalie de Vries. Maas dan van Rijs pernah bekerja di OMA (Koolhaas), hal tersebut berpengaruh terhadap arah isu dan minat MVRDV, urban density. Buku “FARMAX: excursion on density”, tahun 1999, disebut menandai terjadinya pergeseran (kembali) isu “urban density”. Dalam beberapa review, FARMAX disebut sebagai kelanjutan dari buku Rem Koolhaas yang berjudul S, M, L, XL. Jika Koolhaas menawarkan manifesto culture of congestion dan konsep Bigness, dijelaskan pada bagian sebelumnya, maka MVRDV menawarkan konsep max density. Melalui konsep ini MVRDV dianggap mewakili pergeseran paradigma dari “to control density” menjadi “to learn density”. Pendekatan berbeda dengan konsep bigness juga dilakukan melalui konsep lightness, temporaryness dan mobility. Pendekatan bukan melalui konsep-konsep besar yang bersifat avant-garde, namun melalui pendekatan-pendekatan sederhana dan ringan namun populer, konsep ini kemudian dikenal sebagai Lite-urbanism. Konsep MVRDV dan Koolhaas dapat dikatakan saling melengkapi dari dua sisi yang berbeda, bukan untuk saling dipertentangkan. Bigness dan city of small things (Scalbert, 2004).
Yang menjadikan tahap ini berbeda dengan sebelumnya adalah, sifat pragmatis para pelaku desain pada tahap ini sangat kuat, sehingga MVRDV memposisikan arsitek bukan sebagai desainer yang avant-garde, namun sebagai katalisator dengan menciptakan “natural container” (Klingmann, 2002). MVRDV memperkenalkan metoda pragmatis sebagai tanggapan terhadap kondisi perkotaan yang semakin padat. Buku “Metacity/Datatown”, tahun 1999, adalah sebuah proyeksi menghadapi kondisi bumi yang semakin padat dan penuh kekacauan di masa depan bila manusia tidak merubah cara hidupnya. Dalam kondisi yang sangat padat dan kacau, MVRDV menawarkan pendekatan baru dengan melihat kota sebagai kumpulan informasi berupa data murni. Buku ini adalah sebuah permainan, sebuah provokasi, sekaligus sebuah investigasi serius, dengan melakukan translasi dari kekacauan kota-kota kontemporer menjadi informasi murni, sebuah datascape. (dalam Frey, 2008). Melalui metode datascape, MVRDV mengubah informasi mengenai zoning, peraturan, teknologi, keinginan klien, iklim, politik dan sejarah hukum, menjadi bentuk fisik yang optimal.
“The architecture that we make is part of the ordinary, part of our pop culture. At the same time, the buildings try to engage with society by questioning our behavior and offering alternatives. And they offer those alternatives by showing — visibly, obviously — in their actual design the social problems we were trying to address. When you see the object, you see the question.” (Maas, 2008, dalam Frey, 2008)

As a critique of the preceding determination on form and the placing the architecture on an intellectual pedestal, the new generation of architects drag the architecture into the whirlpool of reality. They do not see rules, norms and demands as a limitation but rather as a potential, a generator for developing architecture. They take reality for granted, they relate to the power of reality, to the decisionmaking systems and to the political structures, to the fragmented picture of the world, where there is not one truth but many layers of meaning in constant movement. (Bundgaard, 2000)

Pendekatan arsitektur lama, analisis subyektif dan intuisi artistik, tidak dapat digunakan lagi untuk menghadapi bentuk masyarakat yang kompleks. Untuk itulah pendekatan complex design diperlukan pada saat ini. Pendekatan rasionalis kritis tahap ketiga ini tidak melihat aturan, norma dan permintaan sebagai batasan, namun lebih sebagai potensi sebuah desain. Dalam beberapa kritik, MVRDV dikategorikan sebagai projective architecture. Dalam buku ”The architecture of the jumping universe”, tahun 1995, Charles Jencks menjelaskan ada 6 (enam) bentuk gerakan arsitektur kontemporer, yaitu:
Organi-Tech, Fractals; Computer blobs; Enigmatic signifier; Datascape; dan Landforms. MVRDV masuk dalam kategori datascape yang berangkat dari realita di masyarakat, realita isu “density”. Menggunakan data dari kepadatan yang ada dan menciptakan bentuk melalui organisasi bottom-up, bukan top-down seperti tahap sebelumnya.

KESIMPULAN
Isu “density” merupakan isu yang integrated dengan kehidupan perkotaan pada saat ini. Terkait dengan dinamika perkembangan kota, dan berkembangnya kemampuan manusia penghuni kotanya, maka ”density” seharusnya juga dimaknai sebagai sebuah isu yang dinamis. Gerakan kritis, baik era modern maupun postmodern, merupakan salah satu cara agar manusia tidak statis dalam mitos-mitos yang dibuatnya. Dinamika semacam ini diperlukan manusia untuk dapat melihat realita secara rasional. 3 (tiga) tahap gerakan Arsitektur kritis, dalam makalah ini, merupakan gambaran bagaimana cara berfikir rasionalis mengkritisi produk rasionalisme sebelumnya. Telaah terhadap gerakan ini memperlihatkan suatu dinamika yang terus berkembang dalam satu koridor isu yang sama, isu ”urban density”. Pada tahap pertama ”density” merupakan isu yang diposisikan sebagai obyek untuk dipertanyakan kembali kepada masyarakat kotanya. Desain Eisenman menggunakan cara yang ”kejam” (tidak ramah) untuk memperkenalkan kembali realita isu perkotaan. Tahap kedua cenderung menjadi eksperimen keterhubungan antara teorit ”density” dan prakteknya. Teori-teori praktis terkait dengan isu ”density” banyak muncul pada tahap ini. Berbagai karya tulis mengangkat realita kehidupan kota yang padat. Desain adalah bagian dari kepadatan sebuah kota, sehingga analisis kepadatan mulai banyak digunakan oleh beberapa arsitek. Tahap ketiga merupakan tahap pragmatis, dimana strategi-strategi untuk mewadahi isu ”density” ditawarkan sebuah desain. Desain bersifat bottom-up menawarkan bentuk yang optimal terhadap realita kondisi yang ada.

Daftar Referensi
Bundgaard, Charlotte, 2000, Form follows action, Makalah Research Course “Aestethetic Experience and Interpretation”, Lysebu 19-24 Agustus 2000, http://www.c-i-d.dk/doc/Form-follows-Action.doc
Coupland, Douglas, 1991, Generation X: Tales for an Accelerated Culture, St. Martin’s Press
Coupland, Douglas, 1995, Microserfs, HarperCollins
Coupland, Douglas, 2006, JPOD, Random House
Derrida, J., Eisenman, P., 1997, Chora L Works, Monacelli Press
Frey, Darcy, 2008, Crowded House, wawancara Winy Maas dalam The New York Times, 8 Juni 2008, http://www.nytimes.com/2008/06/08/magazine/08mvrdv-t.html?_r=1&pagewanted=all
Jencks, Charles, 1995, The Architecture of the Jumping Universe, Academy, London
Kelbaugh, Douglas S., 2003, “Density – the D Word”, dalam konferensi AIA/BSA “Density: Mith and Reality”, 11-14 September 2003, Boston
Klingmann, Anna, 2002, Liquid Postmodernism: Eventscapes of the Avant-garde, dalam Eventcity, 2002, Birkhauser, http://www.klingmann.com/pdf/LiquidPostmodernism.pdf
Kroll, Lucien, 1987, An Architecture of Complexity, Cambridge, MIT Press
Leach, Neil (Ed.), 1997, Rethinking Architecture, Routledge
Leksono, Ninok, 2008, “E-mail”dan Manusia Super, dalam Kompas, 17 Juli 2008.
Locke, Robert, 2004, Liberal Views Have Never Built Anything of any Value, wawancara Peter Eisenman, 27 Juli, 2004, dalam http://archinect.com/features/article.php?id=4618_0_23_0_M
Newman, Oscar, 1996, Creating Defensible Space, DIANE Publishing
Newman, P., Hogan, T., 1981, A Review of urban density models: Toward a resolution of the conflict between populace and planner, dalam Jurnal “Human Ecology”, Volume 9, Number 3 / September, 1981, Springer, Netherlands.
Scalbert, Irenee, 2004, The City of Small Things, dalam building material issue 12, 2004, Architectural Association of Ireland
Spectrum Knowledge, 2008, The Gen Y Perceptions Study, http://www.spectrumknowledge.com/img/Gen%20Y%20Perceptions%20Study_CREW_Final.pdf
Suriasumantri, Jujun S., 2003, Filsafat Ilmu: Sebuah pengantar Populer, Pustaka sinar harapan Jakarta
Thrush, George, 2003, Density and the City: The Next Layer, dalam konferensi AIA/BSA “Density: Mith and Reality”, 11-14 September 2003, Boston
Turner, Tom, 2005, A review of Parc de la Villette, Paris, http://www.gardenvisit.com/history_theory/library_online_ebooks/architecture_city_as_landscape/review_parc_de_la_villette_tom_turner
Venturi, Robert, 1966, Complexity and Contradiction in Architecture, The Museum of Modern Art Press, New York
Wastuty, Prima W., 2006, Bernard Tschumi : Teori, Metode, Aplikasi, Tesis UGM

Posted in Arsitektur | Tagged , , | Leave a comment

78 Tahun Pasar Gede, Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja

78 Tahun Pasar Gede, Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja
Januari 11, 2008
Sumber: Harian Joglo Semar, 11 Januari 2008

oleh Retno Hemawati




Pasar Gede Solo dibangun dan memulai aktivitas perdagangannya sejak 1930. Pada Sabtu (12/1) pasar ini akan merayakan ulangtahun ke 78 dan ditandai dengan gelaran 78 tumpeng jajan pasar dan beberapa pergelaran seni seperti Sahita, Temperente dan Lawcoustic Music ‘n Foresta Holic di halaman pintu depan Pasar Gede. Kali ini menggagas tema be a long-live heritage, be traditional, be transborder.

Perpaduan Budaya
Pasar Gede dibangun berdasarkan rancangan arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten yang memulai pembangunannya pada tahun 1927. Pada 12 Januari 1930 pasar monumental itu diresmikan Paku Buwono X dengan pemotongan pita oleh GKR Emas yang menelan biaya waktu itu sekitar 650.000 gulden, yang kini setara dengan Rp 2,47 miliar.

Pasar Gede merupakan simbol padu kerja harmonis antara penggagas PB X dan Ir Herman Thomas Karsten yang sangat menghargai budaya budaya lokal, hasilnya adalah arsitektur Indis yang dalam tataran filosofis arsitektural, ia memberikan rasa ruang dan rasa tempat yang khas. Sekaligus nyaris sempurna secara tipologis, di mana pembangunannya memperhatikan pendekatan rasional dan mempertimbangkan iklim budaya lokal.
Sebagai pasar tradisional, Pasar Gede pada awalnya bernama Pasar Gedh’ Hardjonagoro, berasal dari nama cucu kepala Pasar Gedh’ (1930 , disaat itu), seorang budayawan Jawa dari Surakarta Go Tik Swan, keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari PB XII.

Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah klenteng Vihara Avalokitesvara Tien Kak Sie di dekatnya yang tak jauh dari perkampungan warga keturunan Tionghoa (pecinan) yang bernama Balong yang letaknya di Kelurahan Sudiroprajan. Itulah mengapa para pedagang sekalipun sekarang tidak dominan banyak yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dulu pasar ini sebagai mediator perdagangan bagi masyarakat Belanda-Cina-pribumi dengan harapan hubungan antar etnis yang semula berkonflik dapat berlangsung harmonis.

Rusak, Renovasi
Sempat pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda dan kemudian direnovasi pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Kemudian pada 28 April 2000 pasar ini kembali ludes dilalap api. Renovasi pun dilakukan dengan mempertahankan arsitektur asli, ketinggian aspek kultural dan historis yang berusaha dipertahankan dan akhirnya selesai di penghujung tahun 2001. Salah satu kecanggihan pasar ini adalah, turut memperhatikan keperluan penyandang cacat dengan dibangunnya prasarana khusus bagi pengguna kursi roda.
Kondisi bangunan pasar ini jauh lebih beradab dari pasar pada umumnya, Karsten sudah mempertimbangkan atap, sirkulasi udara, masuknya cahaya agar kondisi pasar tidak pengap, lembab dan juga menciptakan iklim komunikasi yang baik dengan cara membuat lorong yang dibuat lebar untuk memudahkan interaksi antar pedagang. Dengan bijak ia melakukan semacam pengamatan akan kebiasaan masyarakat pengguna dan mempelajari kebudayaan setempat. Tidak seperti kebanyakan arsitek Belanda yang justru terkesan memaksakan ide ‘Belanda’ pada bangunan-bangunan di Indonesia.
Sebagai pasar tradisional peninggalan masa lalu, pasar ini merupakan aset budaya Masyarakat Solo. Lebih dari itu, mengingat kesejarahan yang terkandung, pasar ini juga menjadi aset nasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. Secara historis, pasar ini muncul dari embrio pasar candi yang berkarakter Candi Padurasa.

Proses perubahan Pasar Candi berubah menjadi pasar ekonomi yang disebut “Pasar Gede Oprokan” yang digambarkan dengan payung-payung peneduh untuk kegiatan pasar.

Saatnya Belanja!
“Biasanya, para pedagang membawa dagangannya ke pasar dengan gendhongan dengan beban punggung, hingga membutuhkan ketinggian tertentu untuk meletakkan tanpa membuat punggung sakit, ini baru contoh kecil, Karsten membuatnya dengan penuh perhitungan, tapi sekarang banyak yang kemudian direndahkan sekedar untuk mengakomodasi kepentingan bisnis. Alasannya akan semakin banyak ruang untuk mendisplay barang dagangan,” kata Heru Mataya salah satu penggagas acara 78 Tahun Pasar Gede. Faktor kebersihan pun termasuk yang diperhatikan, los penjual daging justru diletakkan di lantai atas. “Maksudnya karena lalat tidak bisa naik ke atas, maka daging tetap higienis dan bisa bertahan lama. Selain itu kami juga butuh panas untuk pengeringan usus sebagai bakal sosis,” kata Sutikno salah satu pedagang daging babi.
Anda sudah memasuki Pasar Gede ketika sudah melalui salah satu pintu masuk utama (main entrance) berkanopi lebar bertuliskan Pasar Gede dengan gaya tulisan Art Nouveau. Lantai untuk masuk berujud ramp. Setelah hall masuk, terdapat ruang terbuka, kemudian ruang-ruang los pasar membujur ke utara dan timur. Selain penjual daging, tentu saja tak beda jauh dengan pasar tradisional lainnya, ragam ‘jualan’ Pasar Gede terdiri dari berbagai macam jenis dari kebutuhan pangan, sandang hingga kebutuhan pelengkap yang lain. Berniat belanja? Coba saja datang, khusus penggemar kuliner, tak akan kecewa. Apalagi jika datang di saat terik menyengat selepas perjalanan, es dawet telasih Bu Dermi pilihan tepat.

Letaknya di tengah Pasar Gede. Ada tempat duduk terbatas yang disediakan, sambil menikmati aura khas pasar, di tengah keramaian dan diantara hilir mudik pedagang dan pembeli.
Tak jauh dari Bu Dermi, coba juga ayam goreng dengan bumbu khas pasar yang ditata apik dan menggoda selera. Ayam ini disarakan untuk oleh-oleh dan dibawa pulang, karena tidak disediakan tempat untuk menyantapnya. Selain ayam, coba juga berbagai macam abon dan cabuk kering. Ingin yang sedikit manis? Tak rugi jika mencoba jajanan pasar : cenil, klepon, grontol yang terbuat dari jagung, tiwul khas Wonogiri, sawut, utri, gatot dan lopis. Semua bisa divariasikan dengan pilihan parutan kelapa, gula merah atau gula pasir dan gula merah yang dicairkan. Harga rata-rata Rp 1.000 per bungkus.
Jika masih belum puas juga dan ingin membawa oleh-oleh lebih banyak, bisa juga membeli kripik cakar ayam, karak, rambak dari kulit sapi, brem, atau belut goreng. Semua sudah dikemas rapi di kios-kios dengan harga satuan per kilogram rata-rata Rp 10.000 hingga Rp 20.000 untuk masing-masing pilihan. (RH dari berbagai sumber)

Sumber: Harian Joglo Semar, 11 Januari 2008

Posted in Kliping 2008 | Tagged , , , , , | Leave a comment

Makam Souw Beng Kong

dari:Warta Kota
Makam Souw Beng Kong
Makam Souw Beng Kong terletak di Gang Taruna di Jalan Pangeran Jayakarta.

Dulu kawasan seluas 20.000 m2 di sekitar makam ini adalah milik Souw Beng Kong. Sekarang daerah ini merupakan pemukiman padat. Akses masuk ke lokasi makam pun hanya berupa gang sempit sebagai tampak pada gambar.

Posted in Kliping 2009 | Leave a comment