Reorientasi Industri Mebel Jepara
Jepara pada tanggal 10 April 2010 adalah hari jadi ke-461. Inilah hari jadi pertama bagi Kota Ukir dalam suasana ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).
Pemberlakuan ACFTA sejak 1 Januari lalu itu jelas memengaruhi tingkat persaingan dan pasar industri mebel Jepara, baik di pasar regional maupun domesti, karena tarif bea masuk dari dan ke sesama anggota ASEAN-China menjadi 0 persen.
Industri furnitur Jepara tidak hanya bersaing dengan negara peserta ACFTA di luar negeri, di dalam negeri pun industri ini akan menghadapi persaingan yang makin ketat dengan perusahaan-perusahaan dari negara tetangga.
Di sisi lain, industri mebel Jepara terdesak oleh meningkatnya harga bahan baku kayu solid yang kian hari kian langka dan mahal. Keterjepitan ini semakin menjadi-jadi dengan adanya kecenderungan perang harga antarpengusaha Jepara.
Tidak sedikit perusahaan Jepara yang menderita kerugian dan gulung tikar karena keterjepitan ini.
Jika tahun 2000 ada sekitar 450 eksportir, saat ini tinggal separo yang masih aktif. Sisanya adalah eksportir yang kesulitan dalam mendapatkan order.
Untuk keluar dari keterjepitan persaingan era ACFTA, bahan baku dan perang harga ini, industri mebel jepara perlu bergerak dari membuat sesuai pesanan menuju membangun merek yang diakui oleh pembeli akhir. Jika sasaran pasar mengakui bahwa suatu merk mebel memberikan manfaat fungsional dan emosional secara positif, berarti merek terbangun dan peluang pengembangan pasar dan nilai jual akan berkembang secara berkelanjutan.
Manfaat fungsional antara lain kenyamanan, keamanan, kekuatan produk, sedangkan manfaat emosional antara lain kebanggaan, rasa memenuhi tanggung jawab etis dalam ikut serta menjaga lingkungan hidup, misalnya.
Langkah membangun merek yang diakui pelanggan akhir tidak cukup hanya membuat nama dan logo. Diperlukan pemahaman yang cermat tentang kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, rumusan citra yang mengena (positioning), promosi, tawaran produk yang menarik, dan akses untuk mendapatkan produk.
Mengapa membangun merek semakin diperlukan di tengah ACFTA dan era informasi ini? Setidaknya ada empat alasan pentingnya membangun merek.
Pertama, untuk meningkatkan nilai jual. Tanpa merek, industri Jepara hanya menjadi pembuat sesuai pesanan dari pedagang perantara. Posisi ini membuat pengusaha Jepara memperoleh nilai tambah yang jauh lebih kecil dibanding pedagang perantara ini.
Berlakulah ungkapan bahwa pedagang lebih berkuasa dari pembuat. Mengapa? Pedagang lebih tahu dari pembuat tentang keinginan dan daya beli konsumen akhir. Dia bisa merancang produk yang akan disukai konsumen akhir. Produsen tidak bisa menjual langsung kepada konsumen akhir, selain melalui pedagang perantara. Ketergantungan ini membuat pedagang dengan mudah menekan harga.
Ketergantungan ini bisa diakhiri jika pengusaha jepara membangun merek di mata konsumen akhir. Jika produk industri mebel Jepara sudah diakui mereknya, nilai jual akan berlipat jauh lebih tinggi. Dalam aturan main ACFTA, nilai tambah dari bisnis yang bermerek akan jauh lebih menguntungkan
Makin Mendekatkan Kedua, membangun merek ini diperlukan untuk perluasan pasar. Di tengah memasyarakatnya teknologi informasi bagi warga Jepara ini, merek akan semakin mendekatkan konsumen akhir dengan produsen. Konsumen akhir bisa langsung berhubungan dengan produsen melalui internet, cukup dengan mengetahui mereknya. Dengan demikian merek membantu memperpendek jalur distribusi.
Ketiga, membangun merek ini penting karena kualitas ukir Jepara berpotensi untuk menjadi merek yang membanggakan pemakainya. Kemahiran ukir Jepara adalah akumulasi pengetahuan dan pengalaman masyarakat Jepara secara turun temurun selama ratusan tahun.
Ukiran Jepara dikenal lebih hidup, halus seperti sutera, ngrawit seperti rambut. Kemahiran ini tidak mudah ditiru begitu saja oleh masyarakat dari daerah lain ataupun dari luar negeri.
Keempat, membangun merek ini semakin perlu dilakukan karena ditunjang oleh teknologi informasi yang semakin terjangkau. Riset pelanggan dan promosi ke luar negeri tidak harus dilakukan dengan membuat iklan di media luar negeri yang harganya mahal, tapi sekarang bisa dilakukan dengan melalui sarana-sarana promosi di internet, baik melalui web, portal business to business, auction, periklanan dan sebagainya.
Contoh sarana yang mempertemukan pedagang besar dan produsen adalah indonetwork.com, alibaba.com dan globalresources.com, sedangkan contoh sarana yang mempertemukan produsen dan pembeli retail adalah ebay.com. Sarana promosi ini jauh lebih terjangkau biayanya daripada promosi melalui media massa luar negeri.
— Nasir Syar’an SIP, staf pemasaran Griya Jepara
Suara Merdeka tanggal 14 April 2010
Selayang Pandang Kabupaten Jepara
17 Februari 2003
Sumber: Kompas, 17/02/2003
NAMANYA tersohor sebagai teluk berpelabuhan indah. Penulis Suma Oriental yang singgah, Tom Pires, sempat memuji sebagai tempat labuh terbaik dari sekian banyak yang dikunjungi selama perjalanannya di abad ke-16. Penulis asal Portugis ini mengatakan, pelabuhan tersebut dalam keadaan paling baik dan setiap orang yang akan pergi ke Jawa dan Maluku akan mampir.
TAHUN 1726, seorang ahli sejarah, Domine Francois Valentijn menyimpulkan, Jepara merupakan pelabuhan bagi pedagang kecil di awal berdirinya. Dengan kondisi geografis di pesisir pantai, daerah ini sangat mungkin mengawali sejarahnya sebagai bandar perdagangan berskala kecil.
Putaran roda aktivitas jual beli terus melaju. Bahkan, perdagangan telah menjadi tiang penyangga utama struktur perekonomian wilayah berstatus administrasi kabupaten ini, paling tidak selama enam tahun terakhir (1996-2001). Tak kurang 22 persen dari nilai total perekonomian disumbang oleh kegiatan tersier ini.
Skala niaga yang ada pun beragam, mulai dari eceran hingga ekspor ke mancanegara. Meski hanya memiliki pelabuhan untuk nelayan dan penyeberangan ke Kepulauan Karimunjawa, pengiriman barang ke negara lain terlaksana lewat Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, bahkan melalui Tanjung Priok di Jakarta.
Komoditas yang disalurkan ke luar negeri sebagian besar adalah produk usaha industri, terutama mebel. Tak kurang dari 3.500 unit usaha pengolahan berbahan baku kayu beroperasi di kabupaten ini, mampu menyerap kira-kira 57.000 tenaga kerja-termasuk yang merangkap menjadi petani di musim tanam-di tahun 2001. Investasi yang ditanam terus meningkat, hampir 48 persen per tahun selama kurun 1998-2001. Berbagai model mebel senilai 153 juta dollar AS dikirim ke 68 negara.
Tak dapat dipungkiri bila industri perabot serta kelengkapan rumah tangga dari kayu ini menjadi jantung kegiatan ekonomi sekunder. Nilai yang dihasilkan pun nyaris separuh (48,45 persen) dari nilai total produksi kegiatan industri. Usaha ini tersebar di Kecamatan Kedung, Welahan, Batealit, Jepara, Mlonggo, Bangsri, Pecangaan, Mayong, dan Keling. Sepanjang jalan raya di Kecamatan Tahunan yang menuju Kecamatan Jepara berderet ruang pamer mebel di sisi kiri dan kanan.
Industri berskala kecil pun seakan tak mau kalah dengan industri mebel yang mayoritas berlabel industri besar atau sedang. Usaha pengolahan monel yang berbentuk perhiasan berwarna keperakan berjumlah 124 unit di Kecamatan Pecangaan dan Kalinyamatan mengapalkan produknya ke Australia. Tak hanya itu, industri genteng di Kecamatan Mayong pun mampu memasarkan produknya ke Malaysia.
Hasil industri kecil kerajinan lain umumnya dijual ke luar daerah. Sekitar 90 persen tenun ikat troso yang diproduksi oleh 114 unit usaha di Kecamatan Pecangaan dan Kedung dikirim ke Bali. Bahan baku industri ini dibeli dari luar Jepara, antara lain Solo, Bandung, dan Garut.
Anyaman rotan berwujud keranjang paket dan tutup lampu yang dikerjakan oleh 325 unit usaha juga disalurkan ke kota-kota besar. Dengan rotan dari Surabaya dan Cirebon, usaha di Kecamatan Welahan, Tahunan, dan Jepara ini menyerap sekitar 1.900 tenaga kerja. Tak ketinggalan, industri pakaian jadi di Kecamatan Pecangaan, Kalinyamatan, Nalumsari, dan Mayong menjual produknya ke Pasar Kliwon di Kudus, Tanah Abang di DKI Jakarta, Banyuwangi, bahkan hingga Papua.
Berbagai usaha industri itu sebagian besar lebih terkonsentrasi di Jepara bagian selatan. Di belahan utara, lahan lebih didominasi oleh budi daya perkebunan, kehutanan, serta pertanian tanaman pangan. Karet yang ditanam sekaligus dicetak dalam bentuk lembaran di Perkebunan Beji, Kecamatan Kembang diekspor ke Amerika Serikat, Hongkong, Taiwan, Jepang, Singapura, Malaysia, Rusia, dan negara-negara di Eropa.
Nilai ekspornya sekitar 836.000 dollar AS. Kapuk dari pohon randu dikirim ke mancanegara dengan nilai 351.000 dollar AS. Hasil pertanian lain yang laku di pasaran internasional adalah biji cokelat. Hasil budi daya di Kecamatan Keling ini dikapalkan ke Belanda, Singapura, Swiss, dan Thailand.
Sayangnya, pengembangan kegiatan perkebunan terhambat oleh laju aktivitas industri. Giuran upah yang tinggi membuat tenaga kerja memilih menjadi buruh industri. Hanya menghaluskan kayu ukiran, Rp 20.000 per hari ada di kantong. Tak perlu berpanas-panas dan mengeluarkan cucuran peluh di tengah kebun atau ladang. Tak heran, mencari buruh perkebunan saat ini lebih sulit dibanding beberapa tahun lalu.
Tak hanya produk perkebunan yang laku, tanaman pangan pun punya komoditas unggulan. Kacang tanah diminati oleh industri makanan. Kira-kira 40 persen hasil panen diserap pabrik kacang Garuda dan Dua Kelinci di Kabupaten Pati. Meski demikian, sejauh ini belum ada niat pemerintah kabupaten maupun investor membangun pabrik kacang di daerah sendiri. Menjadi pemasok bagi perusahaan kacang sudah cukup untuk saat ini.
Meski dihantui penurunan jumlah petani dan makin terkonversinya lahan persawahan karena desakan industri, niat menjadikan usaha primer ini sebagai andalan tetap dikuatkan. Pemerintah Kabupaten Jepara mencanangkan Gema Kartini (Gerakan Bersama Menuju Petani Mandiri) tahun 2003. Target awal, meningkatkan produktivitas padi setengah ton per hektar. Bila berhasil, gerakan ini akan diteruskan untuk palawija dan hortikultura.
Perikanan patut terus dikembangkan. Saat ini, ada 12 tempat pelelangan ikan-termasuk di Karimunjawa. Sekitar 8.500 nelayan, termasuk juragan dan pekerjanya, menangkap 1.775 ton hasil laut senilai hampir Rp 8 milyar pada tahun 2001. Budi daya air payau/tambak dan penangkapan ikan air tawar di perairan umum menghasilkan masing-masing 2,700 ton dan 1,500 ton. (RATNA SRI WIDYASTUTI/ Litbang Kompas)
Sumber : Kompas.
|
|
|
|
|
|
|