Oleh : Punto Wijayanto
Minggu, 13 April 2008Punto Wijayanto
Dua tahun mendatang, kota Hanoi akan berusia 1.000 tahun. Wajah kota ini dapat menggambarkan kompleksitas persoalan arsitektur dari berbagai lapisan masa dan terutama berbagai persoalan.
Seperti umumnya kota-kota di Asia, proses pembangunan Hanoi berjalan dalam dua cara. Di satu sisi, perencanaan merupakan kebijakan yang disyaratkan untuk mendapat kualitas pemanfaatan ruang yang lebih baik.
Di sisi lain, perencanaan belum benar-benar dapat memenuhi kebutuhan semua penduduk kota sehingga perencanaan dan implikasi pembangunan kemudian berjalan bersama dengan pembangunan spontan oleh penduduk. Penduduk kota ini sekitar empat juta orang dan angka migrasi penduduk bertambah.
Sejarah kota Hanoi dimulai ketika Kaisar Ly Tai Tho membuat pusat kerajaan baru di lokasi Hanoi sekarang, tidak jauh dari Sungai Merah. Perpindahan ini menegaskan akhir dominasi China selama 1.000-an tahun. Pengaruh China tampak pada struktur kota yang merujuk pada kosmologi China serta corak arsitektural pada bangunan istana, bangunan religius, serta rumah-rumah penduduk. Kerajaan baru ini, Thang Long, lalu berganti menjadi Ha Noi ketika ibu kota pindah ke Hue di Vietnam tengah.
Akhir abad ke-19 menandai dominasi pemerintah kolonial Perancis di Indochina. Hanoi berperan pula sebagai ibu kota Indochina dengan segala perlengkapan administratif seperti kantor pemerintah. Awalnya, banyak bangunan meniru arsitektur Eropa. Arsitek Perancis, Ernest Hebrard, kemudian mengembangkan langgam arsitektur yang disebut arsitektur Indochina, yaitu penerapan corak arsitektur lokal yang dia temukan pada karya yang harus dia buat untuk pemerintah kolonial. Pendekatan Hebrard banyak diikuti dalam penyelesaian dekorasi arsitektur rumah tinggal masa tersebut.
Selepas dari kolonisasi serta konflik regional lainnya sejak 1974, Vietnam di bawah Ho Chi Minh serta penerusnya menganut ideologi sosialis. Arsitektur pada periode ini banyak merujuk pada arsitektur yang berkembang di Blok Timur.
Dalam konteks tersebut, banyak ruang kota dibangun untuk menguatkan identitas ideologis. Yang paling jelas tentu saja mausoleum sekaligus monumen untuk Ho Chi Minh, bapak bangsa Vietnam, di Lapangan Ba Dinh. Bangunan ini menandai putusnya hubungan dengan identitas kota yang dibangun Perancis.
Ruang terbuka lain seperti Taman Lenin dilengkapi dengan patung Lenin. Sementara, bangunan rumah komunal menjadi lebih sederhana dan standar agar dapat cepat dibangun dan mendistribusikan kesejahteraan. Monumen serta rumah susun menjadi lanskap yang menyusun wajah kota Hanoi waktu itu.
Model metropolis Asia
Ketidakmampuan membiayai cita-cita sosialis mengantar Hanoi pada sistem pembangunan berorientasi pasar. Ditandai dengan reformasi Vietnam ”Doi Moi” tahun 1986 dan berakhirnya embargo Amerika Serikat tahun 1990, Pemerintah Hanoi kini berbagi peran pembangunan kota dengan investasi domestik maupun internasional, hal yang tidak terjadi pada masa sebelumnya.
Kembali ada usaha memutus hubungan dengan kecenderungan arsitektur masa sebelumnya dengan mengecap arsitektur monumental tidak memiliki cita rasa (Logan, 1990).
Wajah kota Hanoi telah berubah drastis. Jumlah rumah bertambah meskipun berbentuk apartemen. Transportasi publik lebih baik meskipun jumlah kepemilikan kendaraan juga terus bertambah.
Perubahan regulasi tersebut mendorong perubahan struktur spasial Hanoi. Pengaruhnya dapat dilihat pada perubahan bentuk kawasan di pusat kota, yaitu Kawasan Old Quarter dan French Quarter. Bangunan baru bermunculan di antara rumah vernakular dan rumah vila, menjadi toko, hotel, serta biro perjalanan. Kualitas visual yang dihasilkan tipologi baru tidak serupa dengan yang lama dan menjadi sumber ketidakharmonisan visual lingkungan.
Dalam konteks tersebut, wacana pelestarian giat dibincangkan dan coba diterapkan. Satu-dua orang dapat memanfaatkan bangunan tua yang mereka miliki dengan tetap memelihara otentisitasnya. Lebih banyak lagi yang berubah dan tampaknya terus bertambah. Hal pelestarian kemudian banyak ditekankan arsitek setempat dikaitkan pada identitas kota.
Dalam percakapan dengan Doang Minh Koi dari Asosiasi Arsitek Vietnam pada tahun 2007, dijelaskan, Hanoi unik karena memiliki ciri ruang yang merupakan perpaduan antara lingkungan alam dan binaan. Karena itu, penting memelihara arsitektur Hanoi yang khas di dalam kecenderungan pertumbuhan kota sekarang.
Arsitek-arsitek Hanoi sesungguhnya melihat situasi saat ini sebagai peluang berekspresi dan mengembangkan bentuk. Ada kesadaran terhadap persoalan perkotaan serta kondisi ekologi yang menjadi rujukan berkarya. Bagaimanapun, ada kebutuhan menampilkan sesuatu yang berbeda. Seorang arsitek muda, Hoang Thuc Hao, contohnya mengeksplorasi pengetahuan tentang iklim saat menggarap bangunan pusat sains dan teknologi. Sementara, Nguyen Toan Thang mencoba merumuskan sikap dalam berarsitektur dalam tiga hal, yaitu manusia, alam, serta arsitektur lainnya (Kien Truc 2006).
Ekspansi kota juga mendorong perubahan pemanfaatan di luar kota. Daerah pedesaan yang dibayangkan ideal dari segi ekologis banyak berubah menjadi kawasan pengembangan khusus seperti permukiman mewah atau khu do thi (KDT). Salah satunya hasil rancangan kelompok Ciputra, yaitu KDT Thang Long. Kompleks ini terdiri dari beberapa menara apartemen serta beberapa perumahan. Sebuah mal yang yang terbesar di Hanoi rencananya akan dibangun di situ.
Jumlah KDT terus bertambah tanpa merujuk pada perencanaan kota. Geertman (2007) melihatnya sebagai episode pembangunan Hanoi dengan cara spontan. Meskipun demikian, banyak anggota pemerintah serta arsitek melihat KDT sebagai penanda kejayaan Hanoi.
Mencairnya isu identitas
Seiring dengan berkembangnya kota serta permasalahannya, identitas kota mencair dan menjadi plural. Isu mengenai identitas dibangun dengan cara berbeda dan dalam periode berbeda-beda. Tidak hanya dibangun dengan mengangkat dan memelihara apa yang Hanoi telah miliki selama ratusan tahun, tetapi juga dengan terus menciptakan arsitektur yang aktual.
Sekarang, kota-kota dunia nyaris mengalami persoalan sama, seperti pertambahan penduduk serta daya dukung lingkungan, sementara di sisi lain, pertumbuhan ekonomi mendorong perkembangan kota ke dalam bentuk tidak terbayangkan. Ketegangan antara dua hal itu mendorong arsitektur terus berkembang dan menariknya pada sisi yang tidak selalu sejalan dalam konteks kompleksitas kota. Hanoi sedang mencari cara kembali pada dirinya tanpa terjebak duplikasi dan sekaligus membentuk identitas dirinya.
© COPYRIGHT 2005-2011 - Team www.archipeddy.com





