your adv. herebanner

ARCHIPEDDY
 

 

Jargon :
Dictionary technical and architectural glossary

your adv here

 

powered by google

Related Link

Kliping Tahun 2006 bidang Iptek

Kliping Tahun 2006 bidang Pelestarian

Kliping Tahun 1996

Kliping Tahun 1997

Kliping Tahun 1998

Kliping Tahun 1999

Kliping Tahun 2000

Kliping Tahun 2001

Kliping Tahun 2002

Kliping Tahun 2003

Kliping Tahun 2004

Kliping Tahun 2005

Kliping Tahun 2006

Kliping Tahun 2007

Kliping Tahun 2008

 

Google
 
 
 
Kliping artikel arsitektur tahun 2006

compilled by author


  Sejarah Jakarta
November 16, 2006
, Sinar Harapan - Sejarah Jakarta Pendirian Jakarta dan Pangeran Jayakarta Oleh
Djulianto Susantio
Tanyakan kepada murid-murid sekolah dasar, bilamanakah kota Jakarta didirikan? Sudah pasti, secara serempak mereka akan mengatakan 22 Juni 1527. Penetapan hari jadi Jakarta itu didasarkan atas perhitungan Prof Soekanto. Dia beranggapan bahwa nama Jayakarta, cikal bakal nama Jakarta itu, diberikan pada 22 Juni 1527. Dalam penafsiran yang masih dianggap kontroversi karena menggunakan penanggalan Islam—bukan penanggalan Hindu Jawa seperti yang digunakan para pakar sebelumnya—Soekanto mengemukakan pendapatnya berdasarkan pranatamangsa, yakni penanggalan yang ada hubungannya dengan pertanian di Jawa.
Menurut kesimpulan Soekanto, nama Jayakarta sebagai pengganti Sunda Kalapa diberikan pada “tanggal satu mangsa kesatu”, yakni pada 22 Juni 1527, saat masa panen berlangsung (Dari Djakarta ke Djajakarta, 1954). Namun pendapat Soekanto tersebut kemudian ditentang oleh Prof Hoesein Djajadiningrat. Dia mengatakan bahwa pergantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta terjadi pada 17 Desember 1526. Peristiwa itu bertepatan dengan perayaan Maulud 12 Rabiul-awal tahun 933 H. Antusiasme Djajadiningrat untuk menetapkan tanggal itu adalah karena perayaan Maulud tersebut jatuh pada hari Senin, bertepatan dengan lahir dan wafatnya Nabi Muhammad yang juga jatuh pada hari Senin (“Hari Lahirnja Djajakarta”, Bahasa dan Budaya, V (1), 1956: 3-11).
Polemik antara kedua sarjana itu berlangsung lama. Secara politis memang Soekanto “menang”. Namun secara ilmiah belum tentu Djajadiningrat “kalah”. Teori-teori lain pun terus bermunculan sesudah polemik itu. Di antara berbagai teori, yang paling mengemuka adalah teori Prof. Slamet Muljana. Dia berpendapat, “Belum ada data sejarah pasti untuk membenarkan salah satu hipotesis tersebut”. Kemudian dia ikut mengemukakan pendapat yang dituangkan dalam bukunya Dari Holotan ke Jayakarta (Yayasan Idayu, 1980).

Jayakarta Wijayakrama
Salah satu acuan yang digunakannya adalah kitab Carita Purwaka Caruban Nagari (PCN) yang ditemukan di Indramayu tahun 1972. Muljana menguraikan bahwa pada zaman Sultan Hasanuddin (yang mulai memerintah Banten pada 1552), dia mengangkat menantunya Ki Bagus Angke menjadi Bupati Sunda Kalapa. Dari cerita ke cerita, selanjutnya dikatakan bahwa Ki Bagus Angke mempunyai putra bernama Sungarasa Jayawikarta. Nama Jayawikarta ternyata dicatat pula dalam salah satu Babad Banten, namun dengan nama Pangeran Wijayakarta. Pangeran Wijayakarta atau Jayawikarta kemudian memperoleh nama abhiseka (penobatan) Wijayakrama. Maka setelah menjadi Bupati Sunda Kalapa, Wijayakarta atau Jayawikarta diwisuda sebagai Pangeran Jayakarta Wijayakrama. Mengacu kepada nama-nama seperti Hollandia di Papua menjadi Sukarnopura (Kota Sukarno) atau Petersburg di Rusia menjadi Leningrad (Kota Lenin), menurut Muljana, tidak mustahil bahwa toponim Jayakarta sebagai ganti toponim Sunda Kalapa, semula adalah nama pribadi pembesar yang menguasai Sunda Kalapa, yakni Pangeran Wijayakarta atau Jayawikarta. Perkembangan toponimnya kemudian menjadi Jayakarta (Kota Kemenangan) dan Jakarta.
“Jika pendapat di atas benar, perubahan nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta berlangsung pada akhir abad ke-16, ketika Pangeran Jayakarta mulai menetap di Sunda Kalapa,” demikian Muljana. Disebutkan pula, menurut sumber berita Kompeni, tempat kediaman Pangeran Jayakarta adalah di belakang pelabuhan Sunda Kalapa di tepi Sungai Ciliwung. Tempat itulah yang mula-mula disebut Jayakarta, karena tempat itu adalah tempat kediaman Pangeran Jayakarta.
Selanjutnya toponim Jayakarta muncul dalam piagam yang berasal dari Banten. Mengutip pembacaan seorang epigraf (pakar bahasa dan tulisan kuno) Belanda van der Tuuk, Muljana mengatakan piagam Banten antara lain menyebutkan istilah wong jakerta dan wong jayakerta (hal. 64). Adanya toponim jakerta dan jayakerta, setidaknya memberi petunjuk bahwa toponim Jayakarta telah ada sebelum kedatangan orang Belanda di Indonesia.
Sebenarnya, tarikh piagam Banten itu dapat dijadikan pegangan untuk menetapkan hari lahir Jayakarta. Sayangnya, bagian yang menyebutkan tarikh telah rusak. Namun dari isinya Muljana menganalisis bahwa piagam Banten dikeluarkan pada awal abad ke-17. Ini karena pada piagam itu tercantum kata kumendur, berasal dari kata commander. “Oleh karena itu boleh dipastikan bahwa piagam itu dikeluarkan sesudah tahun 1602, ketika orang Belanda telah datang di Indonesia,” kata Muljana.

Keputusan Politis
Dalam laporan Cornelis de Houtman pada 1596, toponim Jayakarta juga muncul. Dia menyebut bahwa Pangeran Wijayakrama adalah koning van Jacatra (=raja Jakarta). Dari laporan itu tergambar bahwa nama Jacatra atau Jakarta merupakan nama tempat atau nama kota. Dibandingkan Soekanto dan Djajadiningrat, memang Muljana tidak secara pasti mengungkapkan bilamanakah mulai terjadi pergantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.
Anehnya, meskipun pernah terjadi polemik yang berkepanjangan antara Soekanto dengan Djajadiningrat, Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja sudah keburu menuangkan SK tertanggal 23 Februari 1956 terhadap hasil penelitian Soekanto. Hal tersebut pernah membuat heran para peneliti sejarah dan pejabat negara, termasuk Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo waktu itu. Sewaktu menghadiri perayaan pertama hari ulang tahun Jakarta pada 1956, Ali Sastroamidjojo bahkan setengah mengejek terhadap “peringatan ganjil” itu. Keputusan 1956 itu dipandang sebagai “kemenangan Sudiro” yang waktu itu menjabat Wali Kota Djakarta Raja. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo kemudian mempertanyakan, “Mengapa perdebatan historis diselesaikan dengan keputusan politis?” (Adolf Heuken, Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, hal. 27-28).
Sebenarnya, ketiga pendapat tersebut pun masih diragukan. Soekanto dan Djajadiningrat berawal pada tafsiran Fatahillah, tokoh yang dianggap masih mitos karena sumbernya hanya berupa kitab-kitab babad dan kitab modern. Pendapat Muljana pun perlu dipertimbangkan, mengingat makam Pangeran Jayakarta ada di beberapa tempat, seperti di Banten, Jatinegara, dan Kota. Apakah Pangeran Jayakarta terdapat lebih dari satu? Pangeran Jayakarta mana yang berhubungan dengan sejarah Jakarta? Bilamanakah Jakarta didirikan, mengingat adanya perbedaan waktu yang terlalu jauh antara teori Soekanto dan Djajadiningrat dengan teori Muljana? Meskipun nama Pangeran Jayakarta sudah diabadikan sebagai nama jalan, tentulah bukan berarti kita harus melegitimasi bahwa Pangeran Jayakarta adalah pendiri kota Jakarta. Semestinya, penelitian hari lahir Jakarta tidak hanya bertumpu pada sumber-sumber sejarah (tertulis). Penelitian arkeologi (nontertulis) pun perlu banyak dilibatkan secara berkesinambungan, mengingat perkembangan kota Jakarta begitu pesat. Apalagi dipastikan, banyak situs sejarah dan arkeologi akan segera tertutup oleh pembangunan fisik dalam beberapa tahun ke depan.
Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta Istana Surosowan, Banten; Menelusuri Jejak Sejarah Oktober 10, 2007 Banten Lama banyak menarik perhatian. Pesonanya dipicu cerita kejayaan dan kemakmuran rakyat Banten pada masa lalu. Apalagi sisa kemajuan tadi masih bisa dijumpai di beberapa tempat. Alih-alih membangkitkan nostalgia, situs-situs itu justru menuai kritik dari sana-sini. Ini terjadi akibat benda-benda cagar budaya itu tampak dibiarkan kumuh dan tak terurus. Padahal, bila digarap serius situs Banten Lama berpotensi sebagai daerah tujuan wisata arkeologis. Cuaca siang itu terlihat begitu cerah. Hawa panas yang ada sudah cukup membuat keringat bercucuran. Tapi itu tak menyurutkan langkah Endjat Djaenuderadjat. Dengan semangat menggebu. Kepala Dinas Suaka Purbakala Banten ini asyik menerangkan sejarah kejayaan Banten kepada rombongan wisatawan. Datang dari Jakarta, para wisatawan itu sengaja diajak keliling beberapa situs oleh Direktorat Purbakala dan Permuseuman dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala Serang. Kali ini, lokasi yang dipilih reruntuhan Istana Surosowan. Istana ini dibangun ketika pasukan gabungan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang. Di sekitar istana dibangun tembok atau benteng keliling. Areal benteng ini sekitar tiga hektar. Berbeda dengan benteng-benteng Eropa, di atas benteng tidak ada kupel atau bastion. Tetapi justru dibuat tiang-tiang tinggi tempat prajurit mengamati keadaan di luar benteng. Melihat reruntuhan bangunan di dalam Keraton Surosowan, siapa nyana jika istana itu dibangun pada tahun 1526, ketika Sultan Maulana Hasanudin, sultan kedua dalam silsilah Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut. Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16. Pancuran mas adalah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas. Kolam Roro Denok adalah bagian lain yang juga masih terjaga. Di tengah kolam, terdapat tempat istirahat bernama Bale Kambang. Air untuk mengairi kolam diambil dari Tasik Ardi, semacam danau buatan yang terletak tiga kilometer dari keraton. Air di danau disodet antara lain dari Kali Kronjen dan Pelamunan. Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808. Sultan Ageng Tirtayasa mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel. Benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh. Endjat pun menunjukkan kepada kami ciri bangunan hasil rehabilitasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan pembangunan pada masa Sultan Maulana Yusuf.
Endjat juga menunjukkan karya seni dekor tinggi pada masa itu. Bukti ini masih bisa dijumpai pada sisa ubin merah yang dipasang dengan komposisi belah ketupat. Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks istana. Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng istana sempat mengalami kebakaran. Namun nasib istana Surosowan luluh lantak setelah Daendels memimpin pasukan Kompeni untuk menghancurkannya pada 21 November 1808.
Walau hanya tersisa reruntuhan, situs Surosowan sebetulnya masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis. Namun bila melihat kondisi sekarang ini, kami hanya bisa mengelus dada. Di sekeliling kompleks situs dipenubi pedagang kaki lima. Para pedagang ini membuka kios-kios sempit, menjajakan aneka barang bagi pengunjung Masjid Agung Banten Lama. Sampah pun berceceran di mana-mana. Situs Istana Surosowan juga tak mendapat penjagaan yang layak, walau di sekelilingnya telah dipagari. Setiap orang bisa bebas berkeliaran ke dalam dengan beragam tujuan. Dari sekadar melihat-lihat, berwisata sampai bertapa di salah satu sudut. Lebih miris lagi, pada halaman depan dan bagian dalam istana kawanan ternak ikut ambil bagian. Kerbau, domba dan kambing asyik menikmati rumput yang manis. Melihat semua kenyataan tadi, Endjat hanya tersenyum getir. (rn)
Sumber: perempuan.com, 10 Oktober 2007 Mengembalikan Pasar Senen sebagai Ratu dari Timur
Oktober 20, 2006 Oleh: Pingkan Elita Dundu Bau busuk, pesing, dan kotoran ayam menyengat tercium ketika kaki melangkah memasuki Blok III, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di pasar basah itu, para pedagang memotong ternak ayam untuk dijual kepada konsumen. Kotoran, kulit, dan bulu ayam terserak di mana-mana di pasar daging itu. Tumpukan sampah, genangan air kotor dan berbau, serta lalat yang beterbangan mengerubuti hampir setiap tempat di seputar lokasi itu. Kesan kumuh, bau, kotor, sumpek, panas, tidak terurus, atau tidak terawat bukan hanya di Blok III. Kondisi semua blok, mulai dari I sampai VI, tidak berbeda jauh. Bahkan sewaktu mendekati tangga di Blok V ke arah pasar onderdil, tercium pula bau pesing. Begitulah kondisi Pasar Senen di Jakarta Pusat saat ini. Kejahatan dan premanisme Kondisi seperti itu sangatlah jauh berbeda dengan kawasan Senen saat zaman penjajahan. Pada awal abad lalu Pasar Senen sangat terkenal, malah sempat pula dijuluki Queen of the East (Ratu dari Timur) yang jauh lebih tersohor dari Singapura. Tidak hanya vila indah menghiasi kawasan tersebut, tetapi juga banyak pertokoan Tionghoa dan tangsi tentara. Kawasan itu menjadi tempat wandelen alias “makan angin”. Sampai dengan zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta, kawasan Senen masih tertib dan menjadi tempat elite berbelanja. Setelah itu, lambat laun mulai terjadi pergeseran, baik itu tata guna, tata ruang, maupun tata kuasa. Berbagai kepentingan masuk sehingga kawasan itu tidak terpelihara dan menjadi kumuh. Pedagang kaki lima tumbuh seperti jamur. Kawasan yang dulunya tertata dengan baik menjadi semrawut. Tidak salah kalau kemudian orang selalu mengidentikkan Pasar Senen dengan kesemrawutan, kejahatan, dan premanisme. Citra itu terus melekat dan sulit dihapus. “Saya baru sekali datang ke Pasar Senen, tetapi tidak mau lagi ke sana. Kayak ’Sodom dan Gomora’ (istilah untuk sarang berbagai kejahatan),” kata Yoan, mahasiswi S-2 Universitas Indonesia, Jakarta. Kondisi Pasar Senen sangat memprihatinkan. Tidak memberikan rasa aman dan jauh dari rasa nyaman. Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya mencatat, kondisi eksisting Blok I sampai VI memiliki 4.982 pedagang (resmi) dengan jenis dagangan lebih dominan arloji, emas, perlengkapan TNI, tekstil, dan garmen. Selain itu, juga elektronik, toko buku, alat tulis kantor, pasar tradisional, dan pasar kue subuh. Para pedagang menempati 6.677 kios (artinya ada satu pedagang memiliki lebih dari satu kios) dengan luasan 41.922 meter persegi. Direktur Utama PD Pasar Jaya Prabowo Soenirman selaku pengelola Pasar Senen mengatakan, kondisi yang tidak aman dan nyaman itulah yang mengharuskan kawasan itu harus ditata kembali. Ke depan, katanya, Pasar Senen akan menjadi pasar modern yang bersatu dengan stasiun kereta api dan terminal bus kota serta pusat perbelanjaan Atrium Senen. “Pembangunannya dengan konsep transit oriented development, yakni memanfaatkan sistem dan sirkulasi transportasi umum (kereta api, busway, dan angkutan umum lainnya),” ujar Prabowo. Kawasan itu nantinya tidak hanya difungsikan untuk pusat belanja semata, tetapi juga ada hunian (apartemen). Harapannya, aktivitas di kawasan itu akan hidup sepanjang hari. Dalam konsep itu, akan dilakukan pemisahan antara akses pejalan kaki dan jaringan lalu lintas yang ada. Caranya, dengan membangun ruang pejalan kaki seperti area pedestrian dan jalan layang (skywalk) pada posisi level 2-3 bangunan. Kepala Humas PD Pasar Jaya Nurman Adhi mengatakan, kawasan itu akan diberi nama Senen Jaya. Pembangunannya akan melibatkan PD Pasar Jaya sendiri, PT Pembangunan Jaya, dan PT Real Propertindo. Gagasan menata kembali kawasan Senen mulai mengemuka pada Mei 2004, berkaitan dengan rencana PD Pasar Jaya menata kembali pasar-pasar tradisionalnya. Rencana itu diawali dengan sayembara oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat, dan pembangunannya dilakukan tahun 2005. Namun, sayang, selain pelaksanaannya mundur, hasil sayembara ternyata juga tidak teradopsi. Rampung dalam 18 bulan Setelah tertunda hampir satu tahun, proyek tersebut akhirnya mendapat titik terang. Prabowo mengatakan, bulan November 2006 renovasi akan segera dimulai, dan diperkirakan selesai dalam 18 bulan atau tahun 2008 dengan nilai proyek Rp 3 triliun. “Renovasi akan tetap jalan meskipun pembangunan lokasi binaan bagi pedagang kaki lima tertunda,” kata Prabowo. Selama pelaksanaan pembangunan kembali Blok I, II, dan III, para pedagang akan ditempatkan sementara di Blok IV, V, dan VI. Setelah selesai tahap I, lanjutan proyek itu untuk membangun tahap II, yaitu Blok IV, V, dan VI. Menelaah konsep penataan Pasar Senen, terbayang kawasan itu akan hidup kembali dan menjadi Queen of the East. Keseriusan membenahi kawasan itu harus sejalan dengan pengawasan dan penertiban dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola pasar. Jangan sampai setelah ditata, kawasan itu akan kembali kumuh dan penuh preman. Sumber: Kompas, 20 Oktober 2006 Cagar Budaya - Stasiun Beos Direvitalisasi September 1, 2006 Jakarta, kompas - PT Kereta Api akan merevitalisasi dan menata Stasiun Jakarta Kota atau Stasiun Beos sehingga menjadi stasiun kebanggaan warga Jakarta. Dalam penataan itu, wajah Stasiun Beos akan dikembalikan seperti pada masa lalu, tetapi dengan beragam fasilitas baru. Untuk mewujudkan Stasiun Beos sebagai salah satu tempat bersejarah yang juga ada di Kawasan Kota Tua Jakarta, PT Kereta Api telah memulai pemugaran dan pembongkaran kios-kios yang ada. Untuk itu, kontrak dengan sekitar 30 pemilik kios di stasiun ini tidak akan diperpanjang lagi. Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasional I dan Divisi Jabotabek Achmad Sujadi, Kamis (31/8), mengatakan, kondisi Stasiun Beos yang dibangun pada masa Belanda ini sering dikeluhkan karena semrawut, jorok, dan tidak terawat. Padahal, stasiun ini merupakan salah satu cagar budaya. “Diusahakan awal tahun 2007 penataan Stasiun Beos sudah selesai. Di lantai bawahnya nanti akan dibuat lowong seperti zaman Belanda dulu,” kata Achmad Sujadi. Selain untuk menambah kenyamanan pengguna kereta api, upaya ini juga sebagai bagian dari mendukung program Revitalisasi Kota Tua Jakarta. Setiap bulan ada sekitar 4.000 wisatawan yang datang ke sini. Menurut Achmad Sujadi, untuk perkantoran ada di bagian depan. Lokasi ini akan dilengkapi perpustakaan dan museum mini mengenai kereta api. Di sekitar stasiun juga akan dibuat taman, serta areal parkir dipindah ke belakang. Selain itu, lokomotif Bonbon yang memiliki nilai sejarah tinggi yang sekarang berada di Stasiun KA Manggarai akan dipindahkan ke Stasiun Beos. (ELN) Sumber: Kompas, 1 September 2006 Ditulis dalam Bangunan Lama | Tidak ada komentar » Dari Pasar Baroe, Dunia Mendengar Proklamasi Agustus 18, 2006 Pasar Baroe tidak sekadar menjadi pusat belanja sepanjang masa. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun disebarluaskan dari kawasan ini, tepatnya oleh para wartawan Kantor Berita Antara—kala itu di bawah pendudukan Jepang yang dinamai Domei, di salah satu sudut Pasar Baru. Tempat bersejarah itu kini menjadi Galeri Foto Antara dan Museum di Jalan Antara Nomor 57, 59, dan 61. Tepat di lantai dua Gedung Antara, perangkat morse untuk mengirim berita proklamasi beserta meja dan kursi antik masih berada di sudut asli sebagai saksi perjuangan pekerja pers pada tanggal 17 Agustus 1945. Kepala Biro Foto dan Kepala Galeri dan Museum Antara Oscar Motuloh mengatakan, perangkat morse dan mesin tik sengaja tidak diubah untuk menjaga kenangan sejarah kelahiran Republik Indonesia. Namun sayang, hanya sedikit orang yang mengetahui fakta betapa proklamasi disebarluaskan ke seluruh dunia dari ruang kecil sebuah gedung tua di Pasar Baru. “Kabar kemerdekaan disebarluaskan dari kantor Antara selang beberapa saat proklamasi dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur. Kabarnya Adam Malik membacakan teks proklamasi yang diterima seorang wartawan Antara. Selanjutnya informasi tersebut diselipkan dalam kawat berita oleh dua markonis, yakni Wua dan diawasi markonis Sugirun, agar tidak diketahui Jepang yang masih ketat mengawasi mereka. Pasalnya, Jepang sudah mewaspadai informasi kemungkinan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan menyebarluaskan informasi proklamasi,” kata Oscar. Siang itu juga berita proklamasi, lanjut Oscar, ditangkap di pelbagai benua. Pelbagai kapal asing yang berlayar di Samudra Pasifik turut menangkap kabar kemerdekaan Indonesia. Belanda kabur Riwayat keberadaan Gedung Antara pun unik karena pernah juga digunakan oleh kantor berita Belanda, Aneta. Semasa pendudukan Jepang berganti nama menjadi Domei. Perjalanan panjang para jurnalis Antara bermula pada 13 Desember 1937 ketika Soemanang sebagai Hoofd Redacteur bersama AM Sipahoetar dan sejumlah rekan membuka kantor berita di Buiten Tijger Straat Nomor 30 (kini kawasan Pinangsia) menumpang kantor perusahaan ekspedisi Pengharapan. Kebetulan di tempat itu indekos pemuda Adam Malik yang kemudian bergabung di Antara. Disambut sinisme Masa awal pers perjuangan seperti Antara tidaklah mudah. Kehadiran mereka disambut sinisme sejumlah pihak, terutama kalangan yang dekat Belanda. Waktu berjalan, bisnis Antara pun berkembang. Oscar mengatakan, warta Tionghoa Melayu terkemuka seperti Sin Tit Po di Surabaya dan Keng Po pun menjadi pelanggan berita Antara. Kala itu hubungan pergerakan nasionalis Indonesia mendapat sambutan hangat di kalangan media Tionghoa Melayu. Tokoh pergerakan pun turut bekerja di media Tionghoa Melayu seperti Wage Rudolf Supratman. Bahkan, syair Indonesia Raya pun pertama kali dimuat dalam warta Tionghoa Melayu. Seiring perkembangan Antara, kantor pun berpindah ke Tanah Abang Nomor 90 (kini dekat Jalan Budi Kemuliaan) sebelum berpindah ke Pasar Baru dan terlibat dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi, gedung itu pun menjadi bagian perjalanan bangsa Indonesia.
Pada September 1954 Dewan Redaksi Antara meminta Wali Kota Djakarta Raja untuk menggunakan gedung di Jalan Pos Utara (ketika itu) nomor 57, 59, dan 61.
Pemerintah melalui Pengoeasa Daroerat Perang Djakarta Raja memaklumatkan tempat tersebut sebagai gedung bersejarah. Pada tahun 1993 SK Gubernur DKI semasa Soerjadi Soedirja menetapkan sebagai bangunan dilindungi. (Iwan Santosa) Sumber: Kompas, Jumat, 18 Agustus 2006 Menyusuri Jalur KA Pertama di Indonesia (1) - Jalur Kuno Itu Jadi Tumpuan Utama Agustus 12, 2006 Jalur kereta api (KA) Semarang-Tanggung Kabupaten Grobogan ternyata merupakan jalur pertama yang dibuat Belanda, 139 tahun lalu. Dalam rangka memperingati jalur bersejarah itu, Kamis (10/8) PT KA Daop IV Semarang menyelenggarakan acara peringatan berupa napak tilas. Pada hari yang sama, Biro Perekonomian Setda Jateng juga menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) dalam rangka pengembangan perkeretaapian di Jateng. Wartawan Suara Merdeka, Purwoko Adi Seno, yang mengikuti kedua kegiatan itu melaporkan dalam dua seri tulisan. MATAHARI sudah berada di atas ubun-ubun, saat kereta luar biasa (KLB) yang membawa rombongan napak tilas mulai meninggalkan Stasiun Tawang Semarang. Tak lama berselang, kereta itu pun mulai memasuki wilayah Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Di kejauhan terlihat sebuah bangunan gudang, dan di sekitarnya ada beberapa gerbong barang. Ya…., itulah Stasiun Semarang Gudang yang dulu bernama Stasiun Tambaksari. Bangunan itu semula adalah stasiun ujung atau dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Dari stasiun itu pula, kisah sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai. Kebutuhan angkutan KA sebenarnya sudah mulai dirasakan setelah masa tanam paksa (1830-1850). Kala itu hasil bumi di Jawa tak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sudah jadi komoditi ekspor. Namun, upaya mewujudkan harapan itu ternyata tidak mudah. Pemerintah Belanda pun kemudian merencanakan untuk membuat jalur transportasi KA. Dalam buku 139 Tahun Perkeretaapian Indonesia, pengajar trasnportasi Unika Soegijapranata Semarang, Tjahjono Rahardjo menggambarkan, rencana itu ternyata menimbulkan pro dan kontra. Kala itu beberapa pihak menilai, angkutan KA untuk Hindia Belanda tidak efisien lantaran jumlah penumpangnya sedikit. “Muncul pula perdebatan tentang peran yang sebaiknya dimainkan pemerintah dalam mengembangkan perkeretaapian di Hindia Belanda,” kata Tjahjono. Menentang Pihak yang menentang keterlibatan pemerintah berpendapat, dana pembangunan jalan rel sebaiknya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih mendesak. Adapun pihak yang menentang keterlibatan swasta berpendapat, jalur KA memiliki fungsi strategis, sehingga risikonya terlalu besar jika diserahkan kepada swasta. Pro-kontra itu pun terus berlangsung hingga 1862, saat rencana pembangunan jalur KA Semarang-Solo -Yogyakarta (vorstenlanden) disetujui. Pada 1864, sebuah perusahaan swasta bernama Nederlandsch Indische Spoorweeg Maatschappij (NIS) memulai pembangunan jalur yang menghubungkan Kemijen dan Tanggung sepanjang 25 km. Namun, proses itu pun ternyata menghadapi berbagai kendala, termasuk sulitnya medan dan kondisi ekonomi. Tapi, kerja keras itu toh membuahkan hasil. Pada 10 Agustus 1867, jalur pertama di Indonesia itu dari Kemijen ke Tanggung, pun diresmikan. Bangunan Stasiun Tanggung yang terbuat dari kayu, hingga kini juga masih dipelihara. Peralatan-peralatan yang digunakan pun sama tuanya. Untuk mengatur wesel, misalnya, masih digunakan tuas-tuas kuno. Demikan pula dengan peralatan komunikasi, masih menggunakan telepon onthel. Kepala PT KA Daop IV Semarang, Rono Pradipto mengatakan, hingga kini jalur itu masih merupakan lintas utama. Setiap hari jalur itu dilalui KA Argo Muria, KA Kamandanu, KA Senja/Fajar Utama, KA Harina, KA Matarmaja, dan KA Rajawali. Persoalannya, jalur antara Stasiun Brumbung dan Stasiun Tanggung kini sudah saatnya diganti. Selama ini, di jalur tersebut menggunakan rel berukuran R 33 dan bantalannya masih terbuat dari kayu. Akibatnya, kecepatan setiap kereta yang melalui jalur itu maksimal hanya 40 km per jam. Agar kecepatan kereta bisa ditingkatkan hingga 70 km per jam, rel di jalur tersebut mestinya diganti menjadi R 45 atau R 54.
”Bantalannya pun mestinya diganti beton,” kata dia. (16a) Sumber: Suara Merdeka, 12 Agustus 2006

Pasar Johar, Bangunan Tropis yang Terancam Juni 2, 2006 Oleh: Ichwan Susanto
Tanpa pendingin udara atau AC, suasana di dalam Pasar Johar, Kota Semarang, Jawa Tengah, masih terasa segar. Ini berkat konstruksi atap cendawan dengan langit-langit tinggi yang menjamin sirkulasi udara. “Ini juga menjaga penerangan alami dari sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan. Bangunan ini hemat energi dan patut ditiru untuk bangunan di daerah tropis,” ujar Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Jateng Widya Wijayanti di Semarang, pekan lalu.
Bangunan karya arsitek kenamaan Belanda, Herman Thomas Karsten, tahun 1936 ini tidak sekadar didirikan. Sebagai eksperimen, arsitek yang ikut membentuk wajah Kota Semarang saat itu melakukan uji coba. Pasar Jatingaleh-lah yang menjadi ajang uji cobanya.
Uji cobanya berhasil. Meski berukuran jauh lebih kecil dibandingkan Pasar Johar, konstruksi pemecahan bentang lebar dan struktur beton bertulang berbentuk cendawan dinilai berhasil menciptakan bangunan yang bersahabat dengan iklim tropis. Cahaya matahari yang bersinar setiap bulan dan tahun, serta kelembaban tinggi, dapat diatasi dengan desain bangunan yang tinggi serta banyak ventilasi. Pasar Johar terletak di Jalan H Agus Salim, wilayah Kota Lama Semarang. Bangunan seluas 15.003,50 meter persegi ini, selain memiliki konstruksi atap cendawan dengan langit-langit tinggi, juga mempunyai pilar persegi delapan yang hingga kini masih kokoh menyangga bangunan. Sinar matahari dimanfaatkan tanpa menimbulkan panas karena udara mengalir dengan baik. Menurut Widya Wijayanti, desain seperti ini tercipta oleh arsitek yang humanis atau memerhatikan manusia, lingkungan, dan peruntukannya. Fondasi dan pelapis lantai menggunakan batu andesit yang terkenal kokoh menahan beban. Pemikiran lebih jauh Karsten saat itu adalah batu andesit mudah dibersihkan sehingga cocok dengan kondisi pasar tradisional yang mudah kotor. Ini menjadikan Pasar Johar sampai pada 30 tahun pertama beroperasinya merupakan bangunan pasar yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga berkinerja baik. Saking terkenalnya, Pasar Johar menjadi pusat perdagangan di Nusantara, bahkan Asia. Di sinilah ribuan pedagang dan warga saling berinteraksi. Tetapi, di sini pula puluhan arsitek belajar tentang bangunan tropis yang baik, dan selanjutnya mengembangkannya menjadi sejumlah bangunan di negeri ini. Akan dibongkar Sayangnya, Pasar Johar kini terus disesaki dan dibebani beban di luar kemampuannya. Bahan bangunan berkualitas wahid tanpa perawatan memadai pun hasilnya nihil. Kerusakan diperparah dengan langganan banjir dan rob atau limpasan air laut ke daratan yang hebat sepanjang Mei-Juli. Kondisi Pasar Johar kini tampak kumuh dan kerap tergenang rob. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang seperti menutup mata terhadap persoalan ini. Bahkan, kondisi lingkungan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemkot Semarang untuk menata dan mengatasinya, malah menjadi alasan bagi Wali Kota Sukawi Sutarip untuk berusaha membongkarnya. Bukannya mencarikan jalan keluar supaya Pasar Johar terbebas dari kurungan permasalahan lingkungan, Sukawi mengatakan perbaikan itu harus dilakukan dengan pembongkaran. Apakah dengan pembongkaran, meski dibangun dengan bangunan yang persis aslinya, akan menuntaskan bangunan baru itu dari permasalahan lingkungan? Hal yang sia-sia. Demikian diungkapkan arsitek dan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Eko Budihardjo MSc, yang juga mengetuai Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang. Apalagi, dipandang sebagai cagar budaya, bangunan Pasar Johar ini layak mendapat perlindungan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 yang sekarang sedang dalam proses revisi untuk penyempurnaannya. Juga dilindungi dengan UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Meski Eko dan Widya, bersama sejumlah arsitek pemerhati kota dan warga lainnya, bersusah payah menolak rencana pembongkaran yang dilontarkan Pemkot, toh dalam pikiran Wali Kota Semarang tetap menilai pembongkaran bangunan itu adalah jalan terbaik untuk mengatasi masalah yang mendera Pasar Johar. Ia tampaknya tidak terlalu memedulikan jika perbuatannya dikategorikan sebagai tindak pidana. “Pasar Johar pasti diperbaiki. Perbaikan itu dengan dibongkar dan dibangun lagi (seperti aslinya). Jika ingin melestarikan, ya harus dibongkar,” kata Sukawi, Rabu di Semarang. Pemkot Semarang beralasan pembangunan harus terus berjalan. Mal empat lantai lebih telah disodorkan investor, PT Java Development Propertindo asal Jakarta, dengan menebas habis Pasar Johar. Wali Kota pun tampak memberikan lampu hijau meski masih berlindung di balik alasan revitalisasi. Kawasan Pasar Johar yang terkenal dengan Masjid Kauman dan Alun-alun Semarang pernah menjadi korban proyek serupa.
Akankah bangunan bersejarah, bernilai tinggi, dan menjadi contoh pengembangan bangunan di daerah tropis ini akan tersetip begitu saja digantikan mal modern? Tinggal kita tunggu saja. Para pemain properti pun mesti memahami tanggung jawab mempertahankan bangunan bersejarah. Tidak elok membongkar bangunan bernilai historis hanya untuk alasan komersial. Sumber: Kompas, 2 Juni 2006

Ruangan di Museum Bahari Terendam Mei 16, 2006 Jakarta, Kompas - Sebagian ruangan Museum Bahari yang dibangun tahun 1652 terancam ambruk akibat selalu terendam air pasang. Air laut masuk dari bagian belakang museum di dalam gedung C tempat sejumlah koleksi disimpan.
Dalam pemantauan Kompas, Senin (15/5), terlihat sejumlah perahu koleksi basah akibat air pasang yang menggenangi ruangan. Di balik pagar tempat gedung C berada memang terdapat sebuah kolam yang langsung berhubungan dengan aliran air laut di kawasan Pelabuhan Luar Batang, Jakarta Utara.
Selain genangan akibat pasang laut, air juga meresap ke dalam dinding bangunan kuno tersebut. Sebagian kusen kayu bangunan antik itu juga digerogoti rayap sehingga dikhawatirkan dapat hancur sewaktu-waktu. Direktur Museum Bahari Dewi Rudiati yang dihubungi menjelaskan, upaya perbaikan telah dilakukan beberapa tahun lalu dengan meninggikan permukaan Museum Bahari. Tetapi pada saat yang sama terjadi peningkatan permukaan air laut sehingga rembesan air tak dapat dicegah. “Kami berusaha menghubungi museum sejenis di mancanegara untuk tukar pengalaman menghadapi situasi itu. Dalam tahun anggaran 2006 juga diupayakan perbaikan,” kata Dewi
Di bagian depan museum terdapat informasi lengkap yang menarik tentang sejarah pelabuhan-pelabuhan dan budaya maritim di seluruh Indonesia. Sejumlah wisatawan asing terlihat mengunjungi Museum Bahari meski dalam keadaan memprihatinkan. Roni, seorang pedagang di dekat Museum Bahari, berharap pemerintah menata lalu lintas di depan museum. “Pasti akan lebih banyak orang berkunjung kemari,” katanya. (Ong)

Sumber: Kompas, 16 Mei 2006

  back to top  
  back to index  
  back to home  

© 2005-2009 EDDY SRIYANTO  Telp.: (021) 33052696 /(021) 935.200.99 / 0812.2525.268 ; : kirim email

Google
© COPYRIGHT 2005-2010 - Eddy S. Lee

banner

banner

your adv here