Sumber:Rakyat Merdeka
Prospek Industri Konstruksi 2010
Rabu, 30 Desember 2009 00:20:45 WIB
Soeharsojo, Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi)
Jakarta, RMexpose.Pasar konstruksi pada 2010 diproyeksikan bakal naik 10 persen dari tahun ini yang mencapai Rp 170 triliun. Selama beberapa tahun terkahir, pasar konstruksi atau nilai proyek terus mengalami peningkatan.
Meski sebentar pada awal 2010, Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China mulai dilaksanakan, namun pasar konstruksi tetap akan terus meningkat. Namun, kedatangan FTA ini menjadi tantangan yang sangat besar. Diharapkan kontraktor di tanah air bisa menembus pasar asing.
Selama ini, jumlah kontraktor asing yang masuk ke Indonesia sudah ratusan. Namun kontraktor lokal yang menembus luar negeri hanya sekitar 11-an kontraktor. Itu pun dari BUMN, karena network maupun SDM BUMN konstruksi cukup kuat. Meski demikian, kita terus memperkuat network hingga ke pasar luar negeri.
Pada 2008 saja, pasar konstruksi sebesar Rp 167 triliun dengan persentase 44 persen kontruksi dari APBN dan APBD, sedangkan swasta dan BUMN maupun BUMD sebesar 56 persen. Sementara itu, pada 2009 yang sebesar Rp 170 triliun, swasta hanya sekitar 43 persen karena imbas dari krisis.
Gapensi yang jumlah anggotanya lebih dari 60 ribu badan usaha, sekitar 88 persen terdiri dari badan usaha kualifikasi kecil dan sisanya sembilan persen kualifikasi menengah serta tiga persen kualifikasi besar. Karenanya, Gapensi sangat berharap adanya dukungan pemerintah yang besar dan serius untuk memperkuat Gapensi sebagai mitranya.
Saat ini, masih banyak kelemahan yang dialami dunia jasa kontruksi. Di antaranya, kurang percayanya perbankan yang bisa diajak kerja sama dengan kontraktor kecil, melemahnya di bidang peralatan yang tidak memenuhi persyaratan. Karenanya, perlu adanya kerja sama dengan pemerintah dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum untuk bisa memanfaatkan peralatannya secara bersama-sama.
Peluang Asing Miliki Properti
Jum'at, 26 Pebruari 2010 00:25:40 WIB
Nara sumber:Darmadi Darmawangsa, Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia
Jakarta, RMexpose.Kalau banyak yang mengatakan harga properti kita mahal dan akan terus naik itu salah besar. Jika dibandingkan dengan di Singapura, orang akan tertawa bila tahu harga properti kita hanya Rp 10-11-an juta/m2. Di Singapura harga properti bisa mencapai Rp 250-300 juta/m2.
Saya pikir apa hebatnya singapura. Karena kita posisinya tidak terlalu jauh berbeda ketimbang disana. Bahkan nilai keberagaman budaya kita sebenarnya lebih bagus dari sana. Apa yang membuat banyak orang tertarik membeli properti disana.
Bahkan, mereka dapat membuat kepercayaan investor asing untuk berinvestor asing dinegaranya. Hal ini membuat saya berpikir bahwa sudah saatnya Indonesia membuka lebar diri dan mustinya ada satu Departemen yang berfokus untuk memikirkan investmen properti di sini.
Dimana tugas Departemen itu sendiri bagaimana bisa meningkatkan apresiasi harga properti di Indonesia. Karena kita tidak kalah degan Singapura dari segi desain, dan banyak hal. Yang lebih mengecewakan lagi banyak pembeli propertidi Singapura itu notabone justru orang Indonesia. Bayangkan, mengapa orang kita yang ngerti kondisi properti kita malah rela membeli properti disana?
Berarti ada sesuatu yang kurang disini. Mereka pintar karena mereka anggap investasi orang mahal. Mereka ingin orang yang siap pakai dan membawa uang kenegaranya untuk tinggal di negaranya.
Bayangkan kalau saya pemerintah dan membuat 5.000 pendaftaran untuk orang asing untuk tinggal disini dan memberikan iming-iming, maka bakal banyak orang asing yang akan mendaftar menjadi orang berkewarganegaraan Indonesia. Kenapa Indonesia tidak membuka 2.000 orang saja dulu. Ini akan menarik, dan bahkan bisa menguntungkan.
Bila ada ketakutan isu-isu negatif, pemerintah juga bisa membuat rambu-rambunya untuk pembatasannya. Kalau pun mereka beli properti di sini mereka juga tidak bakal bisa membawa kabur, karena barangnya juga di sini.
Jangan beranggapan kalau orang asing membeli properti kita, maka kita akan di jajah. Mainset pola pikir itu tidak akan membuat kita semakin maju. Sekarang itu seharusnya kita bagaimana bisa merubah pola pikir itu menjadi lebih baik dan terbuka lagi. Singapura saja berani di serang berbagai negara untuk membeli propertinya di sana, mengapa? Karena mereka siap.
|
|
|
|
|
|
|